Keragaman Bentuk Muka Bumi dan Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Bumi adalah tempat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tinggal. Bumi bila dilihat dari luar angkasa tampak halus dan indah, tetapi apabila bagian bumi dilihat dari dekat, akan tampak bahwa permukaan Bumi tidak rata dan bentuknya beragam. Keragaman bentuk muka bumi tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui berbagai proses dan waktu yang sangat lama.

Manusia di bumi tidak hanya berwujud seperti manusia saat ini. Melainkan ada masa yang jauh berbeda dari masa sekarang yang kita sebut sebagai zaman pra sejarah atau lazim disebut dengan masa pra aksara. Masa praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Masa ini ada sekitar 3 juta tahun yang lalu.

Makalah ini akan membahas jauh dan mendalam tentang keragaman bentuk bumi serta pengaruhnya terhadap kehidupan dan masa pra-aksara. Pembahasan tentang masa pra-aksara mencakup tentang apa dan bagaimana kehidupan pada masa pra-aksara terutama di Indonesia.

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana keragaman bentuk muka bumi?
  2. Bagaimana proses pembentukan muka bumi?
  3. Apa saja dampak bagi kehidupan?
  4. Bagaimana kehidupan masa pra-aksara di Indonesia?

 

1.3 Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui keragaman bentuk muka bumi
  2. Untuk mengetahui proses pembentukan muka bumi
  3. Untuk mengetahui apa saja dampak terhadap kehidupan
  4. Untuk mengetahui kehidupan masa pra-aksara di Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Keragaman Bentuk Muka Bumi

                        Bumi bila dilihat dari luar angkasa tampak halus dan indah, tetapi apabila bagian bumi dilihat dari dekat, akan tampak bahwa permukaan Bumi tidak rata dan bentuknya beragam.

                        Pada permukaan Bumi, ada bagian yang menonjol ke atas, ada pula bagian yang cekung ke bawah. Di daratan bagian yang menonjol ke atas, dapat berupa gunung, pegunungan, dataran tinggi, bukit, dan  sebagainya. Bagian yang cekung dapat berupa ngarai, lembah, danau, sungai, rawa, dan sebagainya. Di dasar laut juga terdapat bagian yang menonjol ke atas dan bagian yang cekung ke bawah, dapat berupa palung laut, lubuk laut, gunung bawah laut, dan sebagainya.

                        Keragaman bentuk muka Bumi tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui berbagai proses dan waktu yang sangat lama. Berbagai bentuk tenaga bekerja untuk mengubah muka Bumi, baik dari dalam Bumi (endogen) maupun dari luar Bumi (eksogen) yang dikenal dengan sebutan tenaga geologi.

Beberapa bentuk-bentuk yang terdapat di muka bumi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok antara lain:

            1. Daerah Pantai

Pada daerah pantai terdapat beberapa macam bentukan, yaitu:

            a. Teluk

Teluk adalah pantai yang bentuknya cekung ke arah daratan atau dapat             disebut juga wilayah laut yang menjorok ke arah daratan. Di Indonesia            sendiri terdapat beberapa contoh dari teluk, yaitu Teluk Jakarta di Pulau             Jawa, Teluk Bone dan Teluk Tomini di Pulau Sulawesi.

            b. Tanjung

Tanjung adalah wilayah daratan yang menjorok ke arah lautan. Apabila ukuran dari tanjung tersebut sangat luas, biasanya disebut dengan istilah Semenanjung. Contoh dari tanjung di Indonesia antara lain Tanjung Priok        dan Tanjung Ujung Kulon di Pulau Jawa, di Pulau Sumatera terdapat            contoh lainnya yaitu Tanjung Jabung.

            c. Delta

Delta adalah daratan yang terletak di muara sungai. Proses pembentukan           Delta dipengaruhi oleh kegiatan sedimentasi sungai. Delta biasanya         terdapat di muara sungai-sungai besar karena materi yang          tersedimentasikan banyak, maka delta yang terbentuk pun akan cukup      luas. Contoh delta di Indonesia antara lain Delta Sungai Kapuas dan Delta    Sungai Mahakam di Kalimantan.

 

            2. Dataran Rendah

Dataran Rendah dapat diartikan sebgai sebuah wilayah yang memiliki karakter landai dan datar juga terletak pada ketinggian yang tidak melebihi 500 meter diatas permukaan laut (m dpl). Contoh dari dataran rendah adalah wilayah Pantura atau Pantai Utara Jawa.

Pada dataran rendah, penggunaan lahan yang dominan adalah pertanian sawah, selain itu pula pada wilayah dataran rendah yang mendekati laut dan juga dekat dengan muara sungai terdapat rawa-rawa seperti yang terdapat di daerah Pantura dan sebelah utara dari Pulau Sumatera.

 

            3. Dataran Tinggi

Dataran Tinggi adalah wilayah yang bentuknya datar, bergelombang dan berbukit-bukut dengan kisaran ketinggian pada lebih dari 500 m dpl hingga 1.500 m dpl.Dataran tinggi yang luas berpuncak datar dan biasanya dikelilingi oleh lereng yang curam dinamakan Plato (Plateau). Beberapa dataran tinggi yang terdapat di Indonesia adalah dataran tinggi Dieng di Jawa Timur dan juga dataran tinggi di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

 

 

            4. Pegunungan

Daerah pegunungan merupakan daerah yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gung sehingga tampak membentuk suatu lingkaran (sirkum). Ada dua sistem pegunungan atau sirkum di muka bumi ini, yaitu:

a. Sirkum Mediterania

Sirkum Mediterania ini berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa dan     kemudian menyembung ke sebelah timur hingga Pegunungan Himalaya di             Asia dan masuk ke wilayah Indonesia melalui wilayah Sumatera dan             menyambung ke Jawa hingga mencapai Kepulauan Maluku.

b. Sirkum Pasifik

Sirkum Pasifik berawal dari barisan Pegunungan Andes di Amerika       Selatan dan berlanjut ke Pegunungan Rocky di belahan Amerika Utara.        Kemudian melalui wilayah Jepang hingga Filipina dan akhirnya masuk ke            Indonesia melalui Pulau Sulawesi dan ada juga yang berbelok ke   Halmahera dan berakhir di Papua.

 

2.2  Proses Pembentukan Muka Bumi

                        Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai mengalir, merupakan suatu panorama yang indah di muka bumi. Perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja pada bumi. Kekuatan itu disebut tenaga geologi. Tenaga geologi terdiri dari tenaga endogen dan tenaga eksogen.

  1. a.      Tenaga Endogen

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang         bersifat membentuk permukaan bumi baru. Tenaga endogen      dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

  1. 1.      Vulkanisme

Vulkanisme adalah segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan yang lebih atas atau sampai ke luar permukaan bumi. Aktivitas tersebut menghasilkan bentukan berupa kerucut atau kubah yang berdiri sendiri dan disebut gunung api. Dimanakah biasanya terbentuk gunung api? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perhatikanlah gambar berikut.

                              Gb. Pertemuan Lempeng Bumi

Pada gambar tersebut tampak bahwa gunungapi umumnya terbentuk pada pertemuan lempeng, terutama lempeng yang saling bertumbukan. Pada pertemuan lempeng tersebut, lempeng samudera menunjam ke bawah dan lempeng benua terangkat. Akibat kaku, lempeng benua mengalami retakan. Magma yang cair kemudian masuk melalui retakan-retakan tersebut dan membentuk kantong-kantong magma. Sebagian magma mampu mencapai permukaan bumi dan membentuk gunungapi. Karena itulah, sebagian besar gunungapi terbentuk pada pertemuan lempeng tersebut.

 

Intrusi dan Ekstrusi Magma

Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke dalam litosfer (kulit Bumi). Penyusupan magma ke dalam litosfer dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

a) Intrusi Magma

Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma diantara lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan Bumi. Intrusi magma dapat dibedakan atas sebagai berikut.

(1)   Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi),

Magma menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar, dan paralel dengan lapisan batuan tersebut.

(2)   Lakolit,

Magma yang menerobos di antara lapisan Bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.

(3)   Gang (korok),

Batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela-sela lipatan (korok).

(4)   Diatermis,

Lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunung berapi. Bentuknya seperti silinder memanjang.

 

b) Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat.

 

Bentuk Gunung Api

1)      Gunungapi corong atau maar,

Gunung api hasil erupsi eksplosif atau berupa ledakan yang posisi dapur magmanya relatif dangkal sehingga gunungapi tersebut berhenti aktivitasnya dengan hanya satu kali ledakan. Oleh karena itu, ketinggian gunung ini relatif rendah dan memiliki kemiringan yang cukup curam. Biasanya terbentuk danau pada bekas lubang erupsi yang dasarnya relatif kedap air. Danau Eifel di Perancis dan Ranu Klakah di lereng Gunung lamongan merupakan contoh tipe ini.

2)      Gunungapi perisai atau aspit,

Gunung api hasil erupsi efusif atau erupsi berupa aliran. Magma yang cair atau encer bergerak ke segala arah dengan ketebalan yang tipis sehingga ketinggiannya juga rendah. Contoh gunungapi aspit adalah gunungapi di Kepulauan Hawaii.

3)      Gunungapi strato,

Gunung api berbentuk kerucut yang tinggi dengan lereng yang curam. Kerucut yang tinggi merupakan hasil dari timbunan material-material vulkanik yang padat maupun cair secara terus-menerus. Gunungapi ini merupakan gabungan tipe letusan eksplosif dan efusif secara bergiliran. Gunungapi di Indonesia umumnya termasuk tipe strato seperti Tangkuban Perahu, Kerinci, Merbabu, Gede-Pangrango, Gempo, dan lain-lain.

 

Tanda-tanda gunung api akan meletus

Gunung api yang akan meletus biasanya mengeluarkan tanda-tanda alami sebagai berikut:

  1. suhu di sekitar kawah naik;
  2. banyak sumber air di sekitar gunung itu mengering;
  3. sering terjadi gempa (vulkanik);
  4. sering terdengar suara gemuruh dari dalam gunung;
  5. banyak binatang yang menuruni lereng.

 

Gejala pasca vulkanik

Gunung api yang sudah kurang aktif, memiliki tandatanda yang disebut gejala post vulkanik, atau pasca vulkanik atau setelah aktivitas vulkanik dengan gejala-gejala sebagai berikut.

  1. Sumber gas asam arang (CO2 dan CO) yang disebut mofet. Gas ini berbahaya sebab dapat menyebabkan mati lemas bagi orang yang menghirupnya. Contoh: Kawah Timbang dan Nila di Dieng (Jawa Tengah), Tangkuban Perahu dan Papandayan (Jawa Barat).
  2. Sumber gas belerang , disebut solfatara. Contoh : Tangkuban Parahu (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah) dan Rinjani (NTB).
  3. Sumber gas uap air, disebut fumarol. Contoh : Dieng (Jawa Tengah) dan Kamojang (Jawa Barat).
  4. Sumber air panas. Sumber air panas yang mengandung zat belerang, dapat digunakan untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit kulit.
  5. Sumber air mineral. Sumber air mineral ini berasal dari air tanah yang meresap bercampur dengan larutan mineral tertentu seperti: belerang, atau mineral lain. Contoh sumber air mineral terdapat di: Ciater dan Maribaya (Jawa Barat),dan Minahasa (Sulawesi Utara).
  6. Geyser. Pancaran air panas yang berlangsung secara periodik disebut geyser. Geyser yang terkenal terdapat di Yellow Stone National Park, California (USA), pancaran airnya bisa mencapai ketinggian 40 meter. Pancaran air semacam ini juga terdapat di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.

 

  1. 2.      Diatropisme

Diastropisme adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi yang mengakibatkan pergeseran dan perubahan posisi lapisan batuan sehingga mengubah bentuk muka bumi. Gerakan tersebut dapat dibedakan menjadi gerakan orogenesis dan epirogenesis. Semua gerakan tersebut akan mengubah bentuk permukaan bumi berupa munculnya sesar dan pelipatan.

Epirogenesis adalah pengangkatan jalur kerak bumi sehingga membentuk pegunungan yang berlangsung sangat lambat dan meliputi daerah yang sangat luas.

Orogenesis adalah proses pembentukan pegunungan (mountain building) atau pengangkatan kerak bumi karena tumbukan lempeng. Proses tersebut menghasilkan pegunungan berangkai yang bersamaan dengan itu terbentuk patahan dan lipatan. Misalnya Pegunungan Himalaya. Jadi, gunung api tidak termasuk orogenesis karena tenaga yang membentuknya adalah tenaga vulkanisme bukan diastropisme.

  1. 1.      Lipatan

Lipatan, terjadi akibat tenaga endogen yang mendatar dan bersifat liat (plastis) sehingga permukaan bumi mengalami pengerutan. Lapisan batuan pada kerak Bumi mendapat tekanan hebat yang menyebabkan pelipatan lapisan batuan. Proses pelipatan lapisan batuan ini merupakan awal pembentukan pegunungan lipatan. Contohnya pembentukan pegunungan lipatan Himalaya. Terlipatnya lapisan batuan ini dapat mendorong terbentuknya perbukitan (antiklinal) dan lembah (sinklinal). Dalam suatu wilayah yang luas terkadang juga dapat dijumpai deretan antiklinal secara berulang-ulang (antiklinorium) maupun rangkaian sinklinal (sinklinorium). Tekanan dengan tingkat tenaga yang berlainan pada lapisan batuan dapat membentuk lipatan yang berbeda. Berikut ini gambaran terjadinya antiklinorium dan sinklinorium serta jenis lipatan batuan.

  1. 2.      Patahan

Tekanan dalam Bumi menyebabkan patahan jika bekerja pada lapisan batuan yang tidak elastis atau keras. Akibatnya, kerak Bumi retak kemudian patah. Di patahan ini ada bagian yang turun disebut graben (slenk). Contohnya graben Semangko di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra. Kadang graben sangat dalam yang disebut ngarai. Contohnya Ngarai Sianok di Sumatra Barat. Jika graben itu terisi air dan menggenang akan menciptakan sebuah danau. Misalnya, Danau Toba di Sumatra Utara dan Danau Tempe di Sulawesi Selatan. Sementara itu, lapisan tanah yang terangkat disebut horst yang menghasilkan kenampakan sebuah plato (dataran tinggi). Contohnya Plato Dieng di Jawa Tengah dan Plato Wonosari di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

  1. 3.      Seisme ( Gempa Bumi)

Gempa merupakan getaran keras dan terjadi secara tiba-tiba. Gempa ini merupakan peristiwa alam yang sangat menghancurkan. Pergeseran daratan di Bumi selalu diikuti dengan gempa. Secara umum, penyebab gempa bumi dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu tektonik, vulkanik, dan runtuhan.

  1. a.      Gempa Tektonik

Gempa bumi yang sering terjadi di Indonesia disebabkan oleh gejala tektonik, yaitu gerakan Lempeng tektonik pada lapisan kulit Bumi. Lempeng tektonik merupakan bagian dari litosfer yang padat dan terapung di atas lapisan selubung bergerak satu sama lain. Gempa ini terjadi karena pelepasan tenaga yang dihasilkan oleh pergeseran lempeng tektonik. Jika dua lempeng bertemu pada satu sesar (patahan), kadang dapat bergerak saling menjauhi, mendekati, atau saling bergeser. Selanjutnya, terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut. Akibatnya, terjadi pelepasan secara tiba-tiba hingga dapat menggetarkan kulit Bumi dengan kekuatan besar yang kita kenal sebagai gempa bumi tektonik.

  1. b.      Gempa Vulkanik

Gempa yang mengguncang Bumi juga dapat ditimbulkan oleh gejala vulkanik atau gunung api. Letusan gunung api yang terjadi disebabkan oleh aliran magma dari dalam Bumi menerobos ke atas lapisan kerak Bumi. Letusan gunung berapi yang keras menyebabkan getaran kulit Bumi, terutama di daerah sekeliling gunung berapi. Pengaruh gempa vulkanik tidak sampai radius jarak yang jauh. Intensitas gempa biasanya lemah sampai sedang. Akibat yang ditimbulkan oleh gempa vulkanik juga tidak sebesar gempa tektonik.

  1. c.       Gempa Runtuhan

Selain gempa tektonik dan vulkanik, gempa bumi dapat terjadi karena runtuhan lapisan batuan. Kegiatan penambangan bawah tanah menyisakan rongga-rongga di bawah tanah berupa guagua. Apabila runtuh, permukaan Bumi akan bergetar. Gempa jenis ini bersifat lokal dan kekuatannya paling lemah.

Berdasarkan jarak pusat gempa, gempa bumi dibedakan menjadi tiga, yaitu :

–          Gempa bumi dalam

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya lebih dari 300km dibawah permukaan bumi. Gempa bumi jenis ini kekuatannya sangat kecil karena sumber gempanya sangat jauh.

–          Gempa bumi menengah

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya antara 100 – 300 km dibawah permukaan bumi. Kekuatannya lebih kuat dibanding gempa bumi dalam.

–          Gempa bumi dangkal

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya kurang dari 100 km dibawah permukaan laut. Kekuatannya sangat besar karena sumber gempanya sangat dekat.

 

  1. b.      Tenaga Eksogen

            Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi, sifatnya merombak atau merusak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga angin, air, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi.

  1. Proses pelapukan dapat dibagi atas tiga jenis yaitu:

–          Pelapukan fisis atau mekanis

–          Pelapukan organis atau biologis

–          Pelapukan kimiawi

  1. Proses terjadinya erosi dibagi atas empat macam yaitu:

–          Erosi oleh air sungai

–          Erosi oleh air laut (abrasi)

–          Erosi oleh gletsyer (glasial/eksarasi)

–          Erosi oleh angin (deflasi)

  1. Denudasi

Denudasi ialah proses yang mengakibatkan perendahan relief daratan. Akibatnya terbentuklah peneplain (dataran yang luas dan semakin melandai ke laut)

  1. Sedimentasi

Sedimentasi ialah proses pengendapan material-material yang diangkut oleh tenaga alam. Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut, sedimentasi dibagi atas:

–          Sedimentasi oleh air sungai.

–          Sedimentasi oleh air laut.

–          Sedimentasi oleh angin.

–          Sedimentasi oleh gletsyer.

2.3  Dampak Terhadap Kehidupan

            Dampak positif dan negatif tenaga endogen serta upaya   penanggulangannya.

  1. a.      Dampak positif tenaga endogen

Patut kita syukuri bahwa tenaga endogen berupa tektonisme yang telah membentuk dataran tinggi dan pegunungan memberikan manfaat besar        bagi kehidupan manusia seperti lahan pertanian, PLTA, menyediakan hasil         tambang, tempat pariwisata.

  1. b.      Dampak negatif tenaga endogen

Daerah-daerah pegunungan sering terjadi longsor yang banyak menimbulkan kerugian baik materi maupun korban jiwa terutama pada       musim hujan.

  1. c.       Upaya penanggulangan dampak negatif tenaga endogen, misalnya:

–          Daerah yang sering terjadi longsor karena keadaan tanahnya yang labil (mudah bergerak), tidak dijadikan sebagai lokasi pemukiman.

–          Membuat konstruksi bangunan yang tahan gempa.

–          Tidak menjadikan lereng curam sebagai lahan pertanian.

Dampak Positif dan Negatif Tenaga Eksogen serta Usaha Penanggulangannya

  1. a.      Dampak positif munculnya tenaga eksogen:

–          Memunculkan habitat.

–          Memperluas daratan di bumi.

–          Memperdekat barang-barang tambang ke permukaan bumi.

  1. b.      Dampak negatif tenaga eksogen:

–          Kesuburan tanah semakin berkurang karena tanah yang subur di permukaan bumi terus menerus mengalami erosi setiap hujan turun.

–          Pendangkalan di muara sungai

–          Abrasi di pantai

  1. c.       Usaha penanggulangan dampak negatif tenaga eksogen:

–          Merehabilitasi hutan yang telah rusak dan melakukan reboisasi pada lahan yang telah gundul, karena hutannya telah habis terbakar.

–          Membuat teras-teras pada lereng yang miring

–          Pengerukan di muara-muara

–          Penanaman pohon bakau.

 

2.4 Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

  1. 1.             Pengertian Masa Praaksara

Masa praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Masa praaksara sering disebut sebagai masa prasejarah. Kehidupan manusia pada masa praaksara disebut sebagai kehidupan manusia purba. Manusia muncul di permukaan bumi kira-kira 3 juta tahun yang lalu bersama dengan terjadinya berkali-kali pengesan atau glasiasi dalam zaman yang disebut kala plestosen.

 

  1. 2.             Kurun Waktu Masa Praaksara

Kurun waktu pada masa praaksara diawali sejak manusia ada dan berakhir sampai manusia mengenal tulisan. Berakhirnya masa praaksara setiap bangsa tidaklah sama. Misalnya, bangsa Australia baru mengenal tulisan sekitar awal abad ke-20. Berarti penduduk asli bangsa Australia baru meninggalkan masa praaksara pada awal abad ke-20.

Bangsa Indonesia meninggalkan masa praaksara kira-kira pada tahun 400 masehi. Hal ini diketahui dari adanya batu bertulis yang terdapat Muara Kaman, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut tidak berangka tahun, namun bahasa dan bentuk huruf yang dipakai member petunjuk bahwa prasasti itu dibuat sekitar tahun 400 Masehi.

 

  1. 3.             Lingkungan alam pada masa praaksara

Keadaan alam di muka bumi selalu berubah-ubah, yang disebabkan oleh hal-hal berikut.

1)             Orogenesis atau gerakan pengangkatan kulit bumi.

2)             Erosi atau proses pengikisan lapisan kulit bumi yang disebabkan oleh angin, air hujan, dan aliran air sungai

3)             Vulkanisme atau kegiatan gunung berapi

Masa praaksara disebut zaman es atau kala plestosen, dimana bagian barat Indonesia berhubungan dengan daratan asia tenggara, sedangkan bagian timur wilayah Indonesia berhubungan dengan Australia.

Kala plestosen berlangsung kira-kira 3 juta sampai 10 ribu tahun yang lalu. Dalam keseluruhan sejarah bumi, kala plestosen merupakan masa geologi yang paling muda dan singkat. Akan tetapi, bagi sejarah umat manusia, kala plestosen merupakan merupakan bagian yang paling tua.

Pada masa plestosen, suhu di bumi menurun dan gletser yang biasanya hanya terdapat di daerah-daerah kutub serta puncak gunung dan pegunungan tinggi meluas, sehingga daerah yang berdekatan dengan tempat-tempat tersebut dan tempat-tempat lain tertutup oleh lapisan es, misalnya di daerah Amerika, Eropa dan Asia serta pegunungan tinggi lainnya.

Akibat dari masa pengesan pada zaman plestosen adalah turunnya permukaan laut sehingga laut yang dangkal berubah menjadi daratan. Daratan-daratan baru inilah yang berperan sebagai jembatan bagi manusia dan hewan dalam melakukan perpindahan ke daerah lain untuk menghindari bencana dan mencari sumber makanan baru.

 

  1. 4.             Awal kehadiran manusia

Menurut hasil penelitian ahli purbakala, diperkirakan manusia muncul sekitar 3 juta tahun yang lalu bersamaan terjadinya proses glasisasi atau pengesan daratan di bumi, yang disebut kala plestosen. Pada masa itu terjadi penurunan suhu di bumi sehingga sebahagian besar daratan di kawasan Amerika, dan Asia Eropa ,dan Asia tertutup lapisan es. Dengan kondisi alam yang demikian membuat manusia menjinakkan hewan/berburu hewan dan bercocok tanam serta dengan membuat alat-alat sederhana untuk membantu kegiatan hidupnya.

 

  1. 5.             Kehidupan pada masa praaksara di Indonesia

Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan disebut masa pra aksara atau prasejarah. Dikarenakan belum mengenal tulisan, maka jejak-jejak sejarah yang mereka tinggalkan berupa benda-benda kebudayaan. Melalui benda-benda kebudayaan yang ditinggalkan para ahli mencoba mengamati dan meneliti secara seksama sehingga diperoleh gambaran mengenai kehidupan manusia pada masa pra-aksara atau prasejarah.

  1. a.             Cara masyarakat pra-aksara mewariskan masa lalu

Ada dua aspek utama dari peninggalan masa lalu yang tidak boleh dilupakan, yaitu:

  1. Peninggalan masa lalu yang bersifat material, misalnya benda-benda kebudayaan.
  2. Peninggalan masa lalu yang bersifat nonmaterial, misalnya pandangan atau falsafah hidup, cita-cita, etos, nilai, norma, dan lain-lain.

Setiap bangsa memiliki cara sendiri-sendiri untuk membuat dua aspek kebudayaan ini tidak dilupakan. Istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan pewarisan kebudayaan dari suatu generasi ke generasi disebut sosialisasi.

Dalam mewariskan masa lalunya, masyarakat pra-aksara belum mengenal berbagai media yang memungkinkan untuk mengarsip peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pada masyarakat pra-aksara, kebudayaan mereka hanya diwariskan secara lisan dan melalui benda-benda kebudayaan. Beberapa cara masyarakat pra-aksara mewariskan kebudayaannya antara lain sebagai berikut:

  1. 1.             Melalui keluarga

Keluarga merupakan dunia sosial yang pertama sekaligus yang paling berkesinambungan. Di dalam keluarga, hubungan sosial pertama kali dibangun. Untuk kemampuan berkomunikasi, misalnya pembelajaran bahasa terjadi pertama kali melalui keluarga. Di dalam keluarga pula seseorang dikenalkan kepada nsur- unsur kebudayaannya. Pewarisan kebudayaan diwarskan secara bertahap, mulai dari yang sederhana dan mudah dipahami menuju sesuatu yang kompleks.

Cara sosialisasi dalam keluarga pada masyarakat pra-aksara antara lain sebagai berikut:

  1. Adat istiadat

Adat istiadat merupakan kebuasaan yang dilakukan dalam suatu kelompok. Setiap keluarga memiliki adat-istiadat atau kebiasaan. Tradisi atau adat-istiadat tersebut biasanya diwariskan kepada seorang anak melalui sosialisasi. Sosialisasi dilakukan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung, misalnya dengan mengajarkan secara lisan tentang tradisi, adat istiadat atau kebiasaan yang belaku dalam sebuah keluarga. Secara tidak langsung, misalnya dengan memberikan contoh perilaku.

  1. Cerita dongeng

Dongeng merupakan cerita fiksi (cerita yang tidak benar-benar terjadi), biasanya tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau yang dianggap aneh oleh masyarakat setempat. Cerita dongeng juga salah satu cara untuk mewariskan masa lalu. Biasanya generasi tua akan menceritakan dongeng-dongeng kepada generasi yang lebih muda. Pada cerita dongeng disisipkan pesan-pesan mengenai sesuatu yang dianggap baik untu dilakukan maupun mengenai sesuatu yang dipandang tidak baik dan tidak boleh dilakukan.

 

  1. 2.             Melalui masyarakat

Dalam setiap masyarakat memiliki cara sendiri-sendiri untk mewariskan masa lalunya baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Cara-cara masyarakat ntuk mewariskan masa lalunya pada masa pra-aksara antara lain melalui hal-hal berikut.

  1. Adat istiadat

Adat istiadat dapat menjadi sarana untuk mewariskan masa lalu kepada generasi penerus. Tetapi masa lalu yang dwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi beikutnya terkadang tidak sama persis dengan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi mengalami berbagai perubahan sesuai perkembangan zaman. Hal ini juga disebabkan karena manusia memiliki akal untuk mengolah apa yang diwarisi oleh generasi terdahulu dan apa yang dibutuhkan oleh generasi bersangkutan. Oleh karena itu masa lalu tidak sepenuhnya diambil oleh generasi berikutnya, tetapihanya menjadi dasar yang terus dikembangkan dan diperbaharui.

  1. Pertunjukan hiburan

Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda, J.L. Brandes meyakini bahwa tradisi wayang telah ada pada masa pra-aksara. Pertunjukan wayang ditunjukkan dengan tujuan mendatangkan roh nenek moyang. Dengan demikian, pertunjukan wayang selain bermakna hiburan juga bermakna religius. Dalam pertunjukan wayang selalu disisipkan petuah-petuah atau petunjuk-petunjuk tentang suatu kehidupan yang sedang dilalui oleh masyarakat. Dalam pertunjukan wayang juga dinyatakan tentang baik buruk kehidupan yang dilalui oleh masyarakat, bahkan pada cerita wayang dibahas sebab akibat dari perilaku manusia secara keseluruhan.

Pertunjukan wayang sebagai media hiburan memberikan manfaat yang sangat besar. Cerita-cerita yag banyak mengandung petuah yang bermanfaat dan dapat menjadi salah satu sarana untuk mengingatkan masyarakat akan masa lalunya.

  1. Kepercayaan masyarakat

Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pada suatu tempat dapat menjadi salah satu cara masyarakat pra-aksara untuk mewariskan masa lalunya. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha, masyarakat Indonesia telah menganut kepercayaan-kepercayaan asli masyarakat Indonesia. Kepercayaan it berbentuk animisme, dinamisme, monoisme, dan segala bentuk pemujaan kepada roh nenek moyang atau roh leluhur. Pemujaan terhadap roh leluhur menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena melalui pemujaan itu masyarakat akan mengenang da mengingat apa yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya di masa lalu, yang kemudian ia warisi.

Munculnya kepercayaan asli masyarakat Indonesia yaitu animisme, dinamisme, dan monoseisme merupakan suatu proses yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan manusia. Proses itu brkembang dalam kehidupan manusia yang didasarkan pada pengalaman masyarakat bersangkutan dan ketergantngan mereka pada alam. Misalnya, pembangunan tugu batu (menhir) sebagai tanda penghormatan kepada roh leluhur atau roh nenek moyang. Tugu batu dikeramatkan oleh masyarakat, bahkan masyarakat menganggap bahwa tugu bar itu memiliki roh atau jiwa atau kekuatan ghab. Oleh karena itu, secara turun-menurun atau dari generasi ke generasi mereka tetap melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang atau roh leluhur melalui tugu batu trsebut. Selain itu, terdapat juga benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib dalam bentuk senjata atau benda-benda lain.

 

  1. b.             Tradisi sejarah masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara

Sebuah masyarakat dengan kebudayaan,nilai-nilai, norma-norma, tradisi, dan adat istiadat yang sama pasti memiliki jejak-jejak sejarahnya di masa lampau. Beberapa unsur-unsur kebudayaan masyarakat sebelum mengenal tulisan yang merupakan bagian tradisi sejarah, antara lain:

  1. Sistem kepercayaan

Masyarakat Indonesia diperkirakan mulai mengenal sistem kepercayaan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Bukti yang menunjukkan demikian adalah ditemukannya lukisan-lukisan pada dinding gua di Sulawesi Selatan. Lukisan itu berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan tersebut diartikan sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Ada lukisan tangan dengan jari yang tidak lengkap yang merupakan tanda berkabung dan penghormatan terhadap roh nenek moyang. Adanya corak kepercayaan seperti ini, diperkuat oleh penemuan lukisan kadal di Pulau Seram dan di Papua. Di tempat itu pula ditemukan lukisan perahu yang menggambarkan kendaraan nenek moyang ke alam baka.

Sampai dengan masa bercocok tanam hingga masa perundagian sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang masih terus berkembang. Pada masa bercocok tanam, pemujaan roh nenek moyang diungkapkan dengan upacara pengubran dan tradisi megalitikum, maka orang masih hidup memuja roh tersebut agar tetap dapat melindungi mereka. Pada masa perundagian, kepercayaan terhadap roh nenek moyang semakin kuat. Hal ini tampak dari makin kompleksnya bentuk upacara-upacara penghormatan, persajian, dan penguburan.

Selain penghormatan terhadap nenek moyang, ada juga kepercayaan terhadap kekuatan alam. Kepercayaan ini kiranya turut ditentukan oleh pengalaman dan ketergantungan mereka terhadap alam. Adanya kepercayaan semacam ini, antara lan terungkap dengan adanya bangunan megalitikum yang dianggap memiliki kekuatan. Corak kepercayaan seperti ini dinamakan dinamisme.

  1. Sistem Kemasyarakatan

Sistem kemasyarakatan mula tumbuh ketika manusia mulai hidup menetap dan bercocok tanam, serta jumlah kelompok yang semakin besar. Sistem kerjasama antar anggota masyarakat dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam menjalani kegiatan hidup, seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dan lain sebagainya. Untuk menjaga kehidupan bersama yang harmonis, manusia menyadari perlunya aturan-aturan yang perlu disepakati bersama. Agar aturan ini ditaati, dtentukan seorang pemimpin yang bertugas menjamin terlaksananya kepentingan bersama.

Sistem kemasyarakatan terus berkembang khususnya pada masa perundagian. Pada masa perundagian sistem kemasyarakatan menjadi lebih kompleks. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Dan tugas yang ditangani membuat masing-masing kelompok memiliki aturan sendiri. Meskipun demikian, tetap ada aturan umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok.

  1. Pertanian

Sejak zaman neolitikum, sistem persawahan mulai dikenal bangsa indonesia yaitu sejak manusia mulai hidup menetap secara permanen (sedenter). Perkiraan ini dimungkinkan mengingat proses bersawah yang cukup lama mengharuskan manusia menetap di suatu tempat dengan waktu yang relatif lama. Kehidupan gotong royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini. Semua proses penanaman dari menyemai benih sampai memanen dilakukan dengan gotong royong.

Semangat gotong royong dalam sistem persawahan terlihat dalam tata pengaturan air (irigasi). Kemampuan bersawah pada masa perundagian semakin berkembang. Hal ini mengingat sudah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.

  1. Pelayaran

Bangsa Indonesia telah menguasai kemampuan berlayar sejak zaman pra-aksara. Kemampuan berlayar bangsa Indonesia dapat diketahui dari latar belakang kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia. Nenek moyang bangsa Indonesia harus menggunakan perahu untuk sampai ke Indonesia. Kemampuan berlayar ini kemudian semakin lama semakin berkembang, mengingat sebagian wilayah Indonesia terdiri dari perairan. Kondisi wilayah yang berpulau-pulau mengharuskan orang menggunakan perahu untuk berlayar dari satu pulau ke pulau lain.

Salah satu jenis perahu yang digunakan masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara adalah perahu bercadik. Perahu bercadik merupakan model yang paling dikenal pada zaman Hindu-Budha. Berahu bercadik dibuat dari sebuah batang pohon besar yang ditebang bersama, kemudian dikupas kulitnya. Kayu tersebut dibuat rongga dengan cara pembakaran sedikit demi sedikit, lalu rongga dan tepian perahu dihaluskan dengan beliung dan akhirnya diberi cadik di satu ataupun kedua sisinya. Kemampuan berlayar ini selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Itulah sebabnya, sejak awal Masehi, bangsa Indonesia sudah mulai berkiprah dalam jalur pelayaran perdagangan internasional.

  1. Sistem Bahasa

Sebagian besar wiayah Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh bentangan lautan yang sangat luas. Dengan keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan sejak semula mereka memiliki sejumlah bahasa dan dialek. Bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia termasuk dalam satu rumpun bahasa yaitu Melayu Austronesia.

Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Setelah mendapat pengaruh dari bahasa Sanskerta, bahasa Melayu menjadi bahasa resi atau bahasa prasasti kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Melayu berhasil menjadi pergaulan dalam perdagangan atau menjadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Melayu menjadi bahasa perantara (lingua franca) di Nusantara atau sebagian wilayah Asia Tenggara.

  1. Ilmu Pengetahuan

Masyarakat pra-aksara di Indonesia pada zaman dahulu telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Dalam bidang pelayaran masyarakat pra-aksara telah mengenal ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Beberapa bintang yang mereka tengarai diberi nama sesuai dengan profesi mereka sebagai pelaut dan petani, diantaranya bintang biduk besar, mayang (berkaitan dengan pelayaran), bintang waluku, gubuk penceng, dan lain-lain (berkaitan dengan pertanian). Mereka juga mengenal istilah-istilah navigasi seperti angin buritan, angin sakal, dan lain-lain. Oleh karena itu mereka telah mengetahui secara teratur waktu bercocok tanam, panen, atau saat yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.

Pengetahuan astronomi dan navigasi serta teknologi pembuatan kapal telah dimanfaatkan masyarakat pra-aksara untuk hubungan transportasi antar pulau maupun antar daerah, baik itu untuk penangkapan ikan maupun untuk kegiatan perdagangan.

  1. Organisasi sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan hidup sendiri tanpa kelompok masyrakatnya. Masyarakat pra aksara di Indonesia hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan menggunakan gua-gua sebagai tempat tinggal, yang kemudian dilanjutkan dengan membangun perumahan-perumahan dalam suatu perkampungan. Untuk itu diperlukan suatu organisasi yang mengatur kehidupan bersama seperti itu. Muncullah lembaga pemerintahan, lalu ada seorang “Primus Interpares” yang disebut Kepala Suku, Ratu, atau Datu(k). Kepala suku tersebut mengatur keselarasan hidup bersama berkaitan dengan status sosial, kekerabatan, penguburan mayat, pernikahan, dan lain-lain. Kepala suku dipilih secara musyawarah atas dasar semangat kekeluargaan.

Para ahli sejaran pada awalnya menduga bahwa masyarakat pra-aksara belum mengenal lembaga “keluarga”, manusia hidup dalam alam kebebasan seksual dan tidak mengenal ikatan seksual apapun (sexual promiscuity). Namun dugaan ini sekarang tidak dapat dipertahankan lagi karena terbukti pada kelompok manusia yang paling primitif pun sudah dikenal lembaga yang disebut keluarga. Faktor yang menjadi latar belakang terbentuknya keluarga adalah untuk mengatur kehidupan seksual seseorang, alasan ekonomi (ekonomi rumah tangga maupun ekonomi di luar rumah tangga) dan untuk menentukan hak dan kepentingan yang sah (hak atas anak, hak ikut dalam pertemuan adat, dan lain-lain).

  1. Teknologi

Teknologi yang pernah dikuasai oleh masyarakat pra-aksara di Indonesia adalah teknik pengecoran logam. Berbagai peralatan rumah tangga, peralatan untuk mengerjakan sawah atau berladang, peralatan buru, dan lain-lain dikerjakan dengan teknik pengecoran logam. Masyarakat pra-aksara juga telah mengenal teknik pembuatan prahu bercadik. Pembuatan perahu bercadik ini sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh lautan. Dengan perahu bercadik tersebut, masyarakat pra aksara menggunakannya sebagai sarana transportasi dan sarana dalam perdagangan.

  1. Sistem Ekonomi

Masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara telah mengenal hubungan perdagangan dengan daerah lain yang berbeda. Hal ini dikarenakan masyarakat pada setiap daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah sistem barter, yaitu tukar menukar barang yang besar kecil nilai penggantinya ditentukan dan disepakati bersama. Selain itu ada dugaan bahwa pada saat itu mula dikenal alat tukar berupa kulit kerang yang indah.

Barang dagangan masyarakat pra-aksara antara lain sebagai berikut:

  1. ramuan hasil hutan,
  2. hasil pertanian atau peternakan,
  3. hasil-hasil kerajinan antara lain gerabah, beliung, perhiasan, perahu, dll,
  4. garam dan ikan laut.
  5. Kesenian

Seni lukis sebagai hasil budaya masyarakat pra-sejarah mulai berkembang di Indonesia pada masa berburu tingkat lanjut. Seni lukis ini tersebar di daerah Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, dan Papua. Pada umumnya, lukisan-lukisan pra-sejarah ditemukan di gua-gua. Kemudian pada masa bercocok tanam, manusia mulai mengenal perhiasan, berupa gelang dari batu dan kulit kerang. Peninggalan megalitikum pada zaman pra sejarah menunjukkan gaya statis dan dinamis. Seni ukir yang diterapkan pada benda-benda megalitikum dan seni hias pada benda-benda perunggu mengembangkan penggunaan pola-pola geometri sebagai pola hias utama.

Beberapa jenis kesenian masyarakat pra sejarah digunakan sebagai bagian dari upacara ritual menghormati roh nenek moyangnya. Kesenian masyarakat pra sejarah yang tetap berkembang hingga saat ini diantaranya seni wayang dan gamelan. Selain itu, masyarakat sekarang juga mengenal seni menghias berbagai benda dengan lukisan-lukisan yang berasal dari kehidupannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

 

3.1  Kesimpulan

Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai mengalir, merupakan suatu panorama yang indah di muka bumi. Perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja pada bumi. Kekuatan itu disebut tenaga geologi. Tenaga geologi terdiri dari tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tentunya tenaga-tenaga tersebut memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan alam sekitar. Untuk memperkecil dampak negatif yang mungkin muncul diperlukan penanggulan-penanggulan yang harus dilakukan.

      Zaman sebelum mengenal tulisan disebut dengan zaman prasejarah atau juga bisa disebut zaman praaksara. Pada zaman ini manusia yang hidup adalah manusia purba. Zaman ini mempunyai kurun waktu tertentu, yaitu sejak manusia ada sampai manusia mengenal tulisan. Mereka mempunyai berbagai tradisi dalam kehidupannya. Begitu pula, mereka juga mempunyai cara tersendiri untuk mewariskan tradisi mereka kepada penerusnya.

 

3.2  Saran

Untuk mewujudkan rasa syukur kita sebagai umat islam, bisa kita tunjukkan dengan cara menyayangi lingkungan kehidupan sekitar kita. Dengan cara belajar dan mengetahui tentang alam, kita akan lebih bisa menghargai sesama dan percaya bahwa nikmat Alloh sungguh besar untuk kita. Dengan belajar sejarah praaksara, kita akan bisa mengambil pelajaran yang sekiranya bisa membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Setiawan, Didang. Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas 7

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s