0

Wacana – Bahasa Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar belakang

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat-kalimat tersebut. Kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang konsep dasar wacana. Dalam hal ini banyak hal yang akan di bahas dalam konsep dasar wacan antara lain,  hakikat wacana yakni banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Kemudian persyaratan terbentuknya wacana yaitu harus satuan gramatikal, satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap, untaian kalimat-kalimat, memiliki hubungan proposisi, memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan, memiliki hubungan koherensi, memiliki hubungan kohesi, rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi, bisa transaksional juga interaksional,  medium bisa lisan maupun tulis, sesuai dengan konteks. Lalu konteks wacana yaitu ada beberapa konteks dalam wacana antara lain adalah wacana lisan dan wacana tulis. Lalu ada lagi yaitu jenis-jenis dalam wacana antara lain wacana ekspresif, wacana fatis, wacana informasional, wacana estetik, dan wacana direktif. Kemudian membahas juga tentang peristiwa berbahasa dan tidak berbahasa, tentang prinsip-prinsip analisis wacana yaitu dalam studi wacana tidak hanya menelaah bagian-bagian bahasa sebagai unsur kalimat, tetapi juga harus mempertimbangkan unsur kalimat sebagai bagian dari kesatuan yang utuh.

1.2  Rumusan masalah

  1. Hakikat Wacana
  2. Persyaratan terbentuknya Wacana
  3. Konteks Wacana
  4. Jenis-jenis Wacana
  5. Peristiwa berbahasa dan tidak berbahasa
  6. Prinsip-prinsip Analisis Wacana
  7. Implikasi Wacana dalam pembelajaran

 

 

1.3  Manfaat penulisan

  1. Mengetahui hakikat Wacana
  2. Mengetahui persyaratan terbentuknya wacana
  3. Mengetahui konteks Wacana
  4. Mengenal peristiwa berbahasa dan tidak berbahasa
  5. Mengetahui rinsip-prinsip Analisis Wacana
  6. Memahami Implikasi Wacana dalam pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Hakikat Wacana

Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.

  1. Pengertian Wacana

Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Menurut Alwi, dkk (2003:42), wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat  atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Lebih lanjut, Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.

Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap yang disajikan secara teratur dan membentuk suatu makna.

Wacana adalah rangkaian ujaran lisan maupun tulisan yang mengungkapkan suatu hal, disajikan secara teratur (memiliki kohesi dan koherensi), dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental bahasa.

Mempelajari wacana berarti pula mempelajari bahasa dalam pemakaian. Di samping itu, pembicaraan tentang wacana membutuhkan pengetahuan tentang kalimat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kalimat.

Untuk mencapai wacana yang kohesi dan koherensi diperlukan alat-alat wacana. Baik yang berupa alat gramatikal , aspek semantik, atau gabungan keduanya. Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan agar suatu wacana menjadi kohesi, antara lain adalah (a) konjungsi, (b) kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis, (c ) menggunakan elipsis (Chaer, 1994).

Penggunaan aspek semantik juga dapat dilakukan agar suatu wacana menjadi kohesi dan koherensi. Menurut Chaer hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: (1) menggunakan hubungan pertentangan antarkalimat, (2) menggunakan hubungan generik-spesifik atau sebaliknya spesifik-generik, (3) menggunakan hubungan perbandingan antara dua kalimat dalam satu wacana, (4) menggunakan hubungan sebab akibat antara dua kalimat, (5) menggunakan hubungan tujuan dalam satu wacana, dan (6) menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua kalimat dalam satu wacana.

  1. Wacana dan Fungsi Bahasa dalam Komunikasi

Wacana dengan unit konversasi memerlukan unsur komunikasi yang berupa sumber (pembicara san penulis) dan penerima (pendengar dan pembaca). Semua unsur komunikasi berhubungan dengan fungsi bahasa (Djajasudarma, 1994:15). Fungsi bahasa meliputi (1) fungsi ekspresif yang menghasilkan jenis wacana berdasarkan pemaparan secara ekspositoris, (2) fungsi fatik (pembuka konversasi) yang menghasilkan dialog pembuka, (3) fungsi estetik, yang menyangkut unsur pesan sebagai unsur komunikasi, dan (4) fungsi direktif yang berhubungan dengan pembaca atau pendengar sebagai penerima isi wacana secara langsung dari sumber.

  1. Wacana dan Kajian Bidang Ilmu Lainnya.

Kajian tentang wacana tidak bisa dipisahkan dengan kajian bahasa lainnya, baik pragmatik maupun keterampilan berbahasa.

  1. Wacana dan Pragmatik

Pragmatik berhubungan dengan wacana melalui bahasa dan konteks. Dalam hal ini dapat dibedakan tiga hal yang selalu berhubungan yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis merupakan hubungan antar unsur, semantik adalah makna, baik dari setiap unsur maupun makna antar hubungan (pertimbangan makan leksikal dan gramatikal), dan pragmatik berhubungan dengan hasil ujaran (pembicara dan pendengar atau penulis dan pembaca)

  1. Hubungan Gramatikal dan Semantik dalam Wacana

Hubungan antarproposisi yang terdapat pada wacana (kalimat) dapat dipertimbangkan dari segi gramatika (memiliki hubungan gramatikal) dan dari segi semantik (hubungan makna dalam setiap proposisi)

  1. Hubungan Gramatikal

Unsur-unsur gramatikal yang mendukung wacana dapat berupa.

  1. Unsur yang berfungsi sebagai konjungsi (penghubung) kalimat atau satuan yang lebih besar, seperti dengan demikian, maka itu, sebabnya, dan misalnya.
  2. Unsur kosong (Elipsis) yang dilesapkan mengulangi apa yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu (yang lain) misalnya: Pekerjaanku salah melulu, yang benar rupanya yang terbawa arus.
  3. Kesejajaran antarbagian (Paralelisme), misalnya: Orang mujur belum tentu jujur. Orang jujur belum tentu mujur.
  4. Referensi, baik endofora (anafora dan katafora) maupun eksofora. Referensi (acuan) meliputi persona, demonstratif, dan komparatif.
  5. Kohesi leksikal

Kohesi leksikal dapat terjadi melalui diksi (pilihan kata) yang memiliki hubungan tertentu dengan kata yang digunakan terdahulu. Kohesi leksikal dapat berupa pengulangan, sinonimi dan hiponimi, serta kolokasi.

 

  1. Hubungan semantik

Hubungan semantik merupakan hubungan antarproposisi dari bagian-bagian wacana. Hubungan antarproposisi dapat berupa hubungan antar klausa yang dapat ditinjau dari segi jenis kebergantungan dan dari hubungan logika semantik. Hubungan logika semantik dapat dikaitkan dengan fungsi semantik konjungsi yang berupa (1) ekspansi (perluasan), yang meliputi elaborasi, penjelasan/penambahan, dan (2) proyeksi, berupa ujaran dan gagasan

  1. Wacana dan Keterampilan Berbahasa

Pembahasan wacana berkaitan erat dengan pembahasan keterampilan berbahasa terutama keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, yaitu berbicara dan menulis. Baik wacana maupun keterampilan berbahasa, sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

 

2.2 Persyaratan Terbentuknya Wacana

Wacana merupakan medium komunikasi verbal yang bisa diasumsikan dengan adanya penyapa (pembicara dan penulis) dan pesapa (penyimak dan pembaca).

  1. Ciri-ciri Wacana

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.

  1. Satuan gramatikal
  2. Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
  3. Untaian kalimat-kalimat
  4. Memiliki hubungan proposisi
  5. Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
  6. Memiliki hubungan koherensi
  7. Memiliki hubungan kohesi
  8. Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
  9. Bisa transaksional juga interaksional
  10. Medium bisa lisan maupun tulis
  11. Sesuai dengan konteks

Syamsuddin (1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut.

  1. Wacana dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian tindak tutur
  2. Wacana mengungkap suatu hal (subjek)
  3. Penyajian teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya
  4. Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu
  5. Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental

 

2.      Unsur Pembentuk Wacana

Wacana berkaitan dengan unsur intralinguistik (internal bahasa) dan unsur ekstralinguistik yang berkaitan dengan proses komunikasi seperti interaksi sosial (konversasi dan pertukaran) dan pengembangan tema (monolog dan paragraf).

2.3    Konteks Wacana

Wacana merupakan bangunan semantis yang terbentuk dari hubungan semantis antarsatuan bahasa secara padu dan terikat pada konteks. Ada bermacam-macam konteks dalam wacana. Wacana lisan merupakan kesatuan bahasa yang terikat dengan konteks situasi penuturnya. Konteks bagi bahasa (kalimat) dalam wacana tulis adalah kalimat lain yang sebelum dan sesudahnya, yang sering disebut ko-teks.

Sedangkan menurut Hymes (1974), konteks wacana bisa singkat dengan “SPEAKING”: Setting and scene (latar tempat dan waktu penggunaan bahasa); Participants (peserta, yaitu penutur/penulis dan kawan tutur/pembaca); Ends (hasil pemakaian bahasa, seperti akibat atau reaksi pada kawan tutur/pembaca); Act of sequence (amanat yang disampaikan melalui bahasa oleh penutur/penulis); Key (cara pemakaian bahasa); Instrumentalities (media pemakaian bahasa: lisan atau tertulis); Norms (kaidah, aturan, atau kebiasaan perilaku peserta komunikasi, seperti apakah komunikasi berlangsung satu arah saja atau dua arah); Genres (ragam teks, seperti surat, puisi, novel, kuliah, pidato).

2.4    Jenis Wacana

Merujuk pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91) tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.

  1. Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.

 

  1. Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta.

 

 

  1. Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.

 

  1. Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.

 

 

  1. Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.

Menurut Djajasudarma (1994:6), jenis wacana dapat dikaji dari segi eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara pemaparan, dan jenis pemakaian.

  1. Realitas Wacana

Realitas wacana dalam hal ini adalah eksistensi wacana yang berupa verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan verbal atau language exist (kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya; nonverbal atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa (rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna)

  1. Media Komunikasi Wacana

Wujud wacana sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran lisan dan tulis. Sebagai media komunikasi wacana lisan, wujudnya dapat berupa sebuah percakapan atau dialog lengkap dan penggalan percakapan. Wacana dengan media komunikasi tulis dapat berwujud sebuah teks, sebuah alinea, dan sebuah wacana.

  1. Pemaparan Wacana

Pemaparan wacana sama dengan tinjauan isi, cara penyusunan, dan sifatnya. Berdasarkan pemaparan, wacana meliputi naratif, prosedural, hortatori, ekspositori, dan deskriptif.

  1. Jenis Pemakaian Wacana

Jenis pemakaian wacana berwujud monolog, dialog, dan polilog. Wacana monolog merupakan wacana yang tidak melibatkan bentuk tutur percakapan atau pembicaraan antara dua pihak yang berkepentingan. Wacana yang berwujud dialog berupa percakapan atau pembicaraan antara dua pihak. Wacana polilog melibatkan partisipan pembicaraan di dalam konservasi.

SUDUT PANDANG JENIS WACANA
Eksistensi/realitas verbal
nonverbal
Media Komunikasi lisan
tulisan
Cara Pemaparan naratif
deskriptif
prosedural ekspositori
hortatory
Jenis Pemakaian monolog
dialog
polilog

 

2.5    Peristiwa Berbahasa dan Tindak Berbahasa

Peristiwa berbahasa (Speech Event) dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.  Kita setiap hari berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar lingkungan kita. Itu merupakan contoh dari peristiwa berbahasa. Kita sering bercakap-cakap atau berdialog dengan sesama juga merupakan wujud dari peristiwa berbahasa.

Percakapan merupakan satu kegiatan atau peristiwa berbahasa lisan antara dua atau lebih penutur yang saling memberikan informasi dan mempertahankan hubungan yang baik. Di dalam percakapan inilah kita berkomunikasi dengan seseorang.

Sewaktu berkomunikasi, kita itu mengkomunikasikan amanat, dan proses berkomunikasi itu terkondisi oleh berbagai situasi, umpamanya rebut hingga kita harus berteriak, dan dalam situasi formal kita juga harus memilih kata-kata yang formal pula.

Sedangkan tindak bahasa (Speech Act) adalah unit bahasa terkecil untuk mengekspresikan makna atau untuk mengekspresikan maksud. Ciri penting tindak bahasa adalah penerima bahasa mengerti maksud pengujar.

Searle mengelompokkan tindak bahasa menjadi empat, yaitu: tindak ujar (utterance act), tindak proposisional (propositional act) atau lokusi, tindak lokusioner, dan tindak perlokusioner.

Tindak tutur (utterance act) adalah pelafalan, pengujaran, dan tidak lebih. Contoh sederhananya adalah seorang anak sekolah yang belajar melafalkan bunyi “aku”’ “cinta”, “padamu”, atau “aku cinta padamu”, dan memang sekadar membunyikan ujaran.

Tindak proposisional adalah pengujaran suatu kalimat yang memiliki acuan. Contoh sederhananya adalah anak yang belajar mengujarkan “Aku cinta padamu”. Si anak mengetahui hubungan gramatikal antarkata yang diujarkannya, tahu arti tiap-tiap kata yang diucapknnya, dan tahu arti kalimatnya.

Tindak ilokusioner adalah penyampaian maksud kepada orang lain dengan maksud memeroleh tanggapan. Contoh sederhananya adalah seorang anak muda yang menyatakan bahwa dia mencintai pemudi yang diajaknya berbicara. Katanya “Aku cinta padamu” dan ia hanya mengharapkan tanggapan.

Tindak perlokusioner adalah suatu kegiatan pengujaran dengan maksud agar pengujarannya berakibat pada perilaku yang diharapkannya. Contoh sederhananya adalah pada konteks tertentu pacar seorang pemuda marah kepadanya karena merasa tidak diperhatikan atau tidak memeroleh cinta yang sepadan dari sang pemuda. Untuk meredakan kemarahan si pacar dan memroleh kembali senyumnya, syukur-syukur dengan ciuman mesra sang pacar kepadanya, sang pemuda pengungkapkan ujaran “Aku cinta padamu”.

Pembicaraan tentang tindak berbahasa dan peristiwa berbahasa tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai makhluk sosial yang butuh berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, perlu prinsip-prinsip yang harus disepakati agar terjalinnya komunikasi yang efektif dan efisien.

2.6    Prinsip Analisis Wacana

Dalam studi wacana kita tidak hanya menelaah bagian-bagian bahasa sebagai unsur kalimat, tetapi juga harus mempertimbangkan unsur kalimat sebagai bagian dari kesatuan yang utuh. Di Eropa penelitian wacana dikenal sebagai penelitian texlinguistics atau textgrammar. Para sarjana Eropa tidak membedakan teks dari wacana; wacana adalah alat dari teks (Djajasudarma, 1994).

Analisis wacana dapat dilakukan pada wacana dialog maupun monolog. Analisis wacana dialog atau wacana percakapan dapat dibagi dua macam, yaitu analisis pada dialog sesungguhnya (real conversation) dan dialog teks. Analisis wacana pada dialog sesungguhnya adalah analisis pada percakapan spontan yang ditunjang dengan segala situasinya, dialog jenis ini dilakukan dengan cara tatap muka. Selain itu, percakapan di sini bukan merupakan percakapan imitasi atau hafalan dari suatu teks seperti drama.

Analisis pada dialog teks adalah analisis pada percakapan imitasi. Percakapan imitasi terjadi jika suatu teks dilatihkan sebagai bahan percakapan, seperti teks drama, film, dan percakapan lain yang dituliskan. Dialog jenis ini pun memerlukan tatap muka. Namun, kalau teks itu tidak dipercakapkan maka tatap muka tidak diperlukan.

Menurut Jack Richard dalam Syamsudddin dkk., hal-hal pokok yang harus menjadi perhatian analisis wacana dialog, yaitu aspek : 1) kerjasama partisipan percakapan, 2) tindak tutur, 3) penggalan pasangan percakapan, 4) pembukaan dan penutupan percakapan, 5) pokok pembicaraan, 6) giliran bicara, 7) percakapan lanjutan, 8) unsur tatabahasa percakapan, dan 9) sifat rangkaian percakapan.

Bentuk bahasa lisan atau tulisan yang tidak termasuk dalam lingkup percakapan atau tanya jawab digolongkan sebagai jenis wacana monolog. Yang termasuk jenis ini antara lain, pidato, dan khotbah, yang dituliskan. Selain itu juga berita yang tertuang dalam bentuk teks seperti surat kabar, sepucuk surat, dan lain-lain. Analisis wacana ini sebenarnya banyak kesamaannya dengan analisis dialog. Namun, pada wacana monolog tidak ada aspek: tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis wacana monolog adalah hal-hal yang berhubungan dengan (1) rangkaian dan kaitan tuturan (cohesions and coherents) (2) penunjukan atau perujukan (references), dan (3) pola pikiran dan pengembangan wacana (topic and logical development).

 

2.7    Pembelajaran Wacana di Lingkungan Sekolah Dasar

 

  • Situasi diberikan dalam bentuk penjelasan situasi, kata kunci, kalimat penjelas;
  • Teks diberikan dalam gugus kalimat, paragraf, teks utuh kalaupun diberikan hanya dalam satu kalimat, tetap tampak konteks dalam kalimat itu;
  • Teks tidak hanya bahasa tulis, tetapi juga bahasa lisan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1    Kesimpulan

 

Dari uraian singkat pada bab II di atas kita dapat menyimpulkan bahwa :

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara uraian kalimat-kalimat tersebut. Banyak hal yang di bahas dalam konsep dasar wacan ini, antara lain  hakikat wacana yakni banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Kemudian persyaratan terbentuknya wacana yaitu harus satuan gramatikal, satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap, untaian kalimat-kalimat, memiliki hubungan proposisi, memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan, memiliki hubungan koherensi, memiliki hubungan kohesi, rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi, bisa transaksional juga interaksional, medium bisa lisan maupun tulis, sesuai dengan konteks. Lalu konteks wacana yaitu ada beberapa konteks dalam wacana antara lain adalah wacana lisan dan wacana tulis. Lalu ada lagi yaitu jenis-jenis dalam wacana antara lain wacana ekspresif, wacana fatis, wacana informasional, wacana estetik, dan wacana direktif. Kemudian membahas juga tentang peristiwa berbahasa dan tidak berbahasa. Serta tentang prinsip-prinsip analisis wacana yaitu dalam studi wacana tidak hanya menelaah bagian-bagian bahasa sebagai unsur kalimat, tetapi juga harus mempertimbangkan unsur kalimat sebagai bagian dari kesatuan yang utuh.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djajasudarma, Fatimah. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: Eresko.

Eriyanto. 2009. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS Printing Cemerlang.

Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Syamsuddin A.R. 1992. Studi Wacana: Teori-Analisis Pengajaran. Bandung: FPBS IKIP Bandung.

Drs. A. Chaendar Alwasilah. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa. 1990

 

 

0

Laporan Observasi Metode Pembelajaran SKI dengan Menggunakan Alphabet Pocket di MI Nurul Hikmah

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan observasi ini tentang Metode Pembelajaran SKI di MI Nurul Hikmah. Shalawat serta salam kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita semua selaku umatnya.

Adapun tujuan penyusunan laporan observasi ini salah satunya untuk memenuhi tugas Mata Kuliah SKI 1 dan Pembelajarannya. Selain itu, juga untuk memperluas pengetahuan kami sebagai mahasiswa tentang metode pembelajaran yang dipakai di MI, khususnya di MI Nurul Hikmah.

Kami ucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan observasi ini, antara lain :

  1. Dosen pengampu mata kuliah SKI 1 dan Pembelajarannya, Ibu Istianah Abubakar ;
  2. Bapak Kepala MI Nurul Hikmah Malang ;
  3. Guru – guru dan staf karyawan di MI Nurul Hikmah Malang ;
  4. Rekan-rekan penyusun khususnya mahasiswa PGMI ICP 2011 ;
  5. Para pembaca yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca.

dan kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.

Sadar akan keterbatasan dan kemampuan yang kami miliki, maka kami mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam penyusunan makalah ini. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk meningkatkan kebaikan laporan observasi ini. Kami berharap semoga laporan observasi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

 

Malang, Desember 2012

Penulis

 

Profil Singkat MI Nurul Hikmah Malang

            MI Nurul Hikmah beralamatkan di Jalan Muharto VII RT/RW 13/07 Kecamatan Kedungkandang, Kelurahan Kotalama, Kota Malang.

Penyelenggaraan pendidikan di kota Malang bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu :

  1. Bertindak aktif yang dilandasi nilai keimanan dan ketaqwaan ;
  2. Menghargai kemajemukan agama, budaya, suku, bangsa, dan status sosial dalam budaya demokrasi ;
  3. Memanfaatkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu teknologi dan seni ;
  4. Bersaing secara jujur dan bekerjasama dalam kebaikan.

 

Visi MI Nurul Hikmah adalah Terwujudnya anak-anak muslim yang sholeh, sholehah, yang beriman dan bertaqwa pada Alloh SWT, memiliki wawasan keilmuan, keterampilan, dan seni budaya keislaman ala ahlussunnah wal jamaah.

 

Misi MI Nurul Hikmah :

  1. Melaksanakan proses pembelajaran yang profesional dan interaktif serta menyenangkan ;
  2. Melaksanakan kegiatan peribadatan dan pembinaan keimanan secara intensif ;
  3. Melaksanakan pengembangan seni dan ketrampilan sebagai bekal mengembangkan kemampuan diri ;
  4. Melaksanakan pembinaan akhlaq sesuai nila-nilai keislaman ala ahlus sunnah wal jamaah ;
  5. Melaksanakan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh komponen dan warga masyarakat.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dalam pengertian agak luas pendidikan dapat dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai materi yang akan disampaikan. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang harus dikuasainya sehingga ia mampu menyampaikan materi secara profesional dan efektif. Menurut Zakiah Darrajat, “pada dasarnya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan, dan kompetensi dalam cara-cara mengajar.

Ketiga kompetensi tersebut harus berkembang secara selaras dan tumbuh terbina dalam kepribadian guru. Sehingga diharapkan dengan memiliki tiga kompetensi dasar tersebut seorang guru dapat mengarahkan segala kemampuan dan keterampilannya dalam mengajar secara profesional dan efektif. Mengenai kompetensi dalam cara-cara mengajar, seorang guru dituntut untuk mampu merencanakan atau mampu menyusun setiap program satuan pelajaran, mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mampu memilih metode yang bervariatif dan efektif.

Dalam pemilihan metode pembelajaran ada beberapa faktor yang harus jadi dasar pertimbangan yaitu : berpedoman pada tujuan perbedaan individual anak didik, kemampuan guru, sifat bahan pelajaran, situasi kelas, kelengkapan fasilitas dan kelebihan serta kelemahan metode pengajaran. Sehingga dengan memperhatikan beberapa faktor pertimbangan tersebut guru dapat menentukan metode mana yang tepat untuk digunakan ketika akan menyampaikan suatu materi pelajaran kepada muridnya, mungkin ia akan menggunakan satu metode saja atau mungkin menggunakan kombinasi dari beberapa metode pengajaran.

Tujuan dari penggunaan berbagai metode yang digunakan oleh guru tersebut tidak lain dan  tidak bukan adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada saat proses pembelajaran.

Kenyataan yang terjadi menurut observasi sementara yang kami lakukan di sekolah MI Nurul Hikmah adalah siswa kurang begitu suka dengan mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam karena siswa menganggap materi yang ada sifatnya kurang menarik dan metode yang digunakan hanya metode penugasan saja, tanpa memperhatikan keaktifan siswa untuk bercerita atau berkisah mengenai sejarah Rasulullah.

Untuk menimbulkan rasa senang dan semangat belajar siswa, guru dapat menerapkan metode Alphabet Pocket dalam pembelajarannya. Metode Alphabet Pocket adalah metode yang sengaja kami rancang sendiri, dengan tujuan agar para siswa lebih bersemangat untuk mengikuti pelajaran SKI. Ketika mereka sudah suka terhadap pelajaran itu, dan sudah semangat dalam mengikuti pembelajaran, maka secara otomatis akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mereka. Berikut akan kami uraikan tentang observasi kami dengan menggunakan metode Alphabet Pocket di MI Nurul Hikmah dalam mata pelajaran SKI.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Metode Pembelajaran?
  2. Bagaimana Metode Pembelajaran SKI yang digunakan di MI Nurul Hikmah?
  3. Bagaimana Metode Pembelajaran SKI dengan menggunakan Alphabet Pocket?
  4. Bagaimana perbandingan hasil dari kedua Metode Pembelajaran tersebut?

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui pengertian Metode Pembelajaran
  2. Untuk mengetahui Metode Pembelajaran SKI yang digunakan di MI Nurul Hikmah
  3. Untuk mengetahui Metode Pembelajaran SKI dengan menggunakan Alphabet Pocket
  4. Untuk mengetahui perbandingan hasil dari kedua Metode Pembelajaran tersebut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.1              Pengertian Metode Pembelajaran

 

Metode menurut Djamaluddin dan Abdullah Aly dalam  Kapita Selekta Pendidikan Islam, (1999:114) berasal dari kata meta berarti melalui, dan hodos jalan. Jadi metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Depag RI dalam buku Metodologi Pendidikan Agama Islam (2001:19)  Metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Menurut  WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1999:767) Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa metode merupakan jalan atau cara yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Metode mengajar banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode mengajar mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Menurut Nana Sudjana (dalam buku Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, 1989:78 – 86), terdapat bermacam-macam metode dalam mengajar, yaitu Metode ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode sosiodrama (role-playing), Metode problem solving, Metode sistem regu (team teaching), Metode latihan (drill), Metode karyawisata (Field-trip), Metode survei masyarakat, dan Metode simulasi.

 

1.2              Metode Pembelajaran SKI di MI Nurul Hikmah

 

Metode dalam setiap pembelajaran di masing-masing mata pelajaran sangatlah penting. Hal ini agar para siswa semangat dan bisa dengan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan gurunya. Dengan menggunakan metode yang tepat maka, siswa akan merasa bahwa mereka nyaman di dalam kelas, sehingga mudah untuk menyerap pelajaran. Observasi yang kami lakukan pun menggunakan beberapa metode, yang bertujuan agar materi yang kami sampaikan bisa diterima para siswa dengan mudah.

Dalam observasi yang kami lakukan di MI Nurul Hikmah, kami juga menyempatkan diri untuk melakukan wawancara atau memberikan beberapa pertanyaan kepada beberapa siswa kelas IVA mengenai metode yang biasa dilakukan oleh guru SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) di kelas mereka. Ternyata menurut salah seorang murid menyatakan bahwa guru mereka menyampaikan materi dengan metode “ceramah”. Mereka pun memberikan penjelasan akan keadaan ini, mereka merasa bosan dan mengantuk.

Di lain sisi, walaupun sang guru menggunakan metode ceramah, tetapi guru tersebut mempunyai gaya khas ketika mereka ceramah. Menurut mereka, sang guru menyampaikan materi dengan diselingi kata “Jamaah… oh Jamaah… “ (gaya Ustad Maulana). Hal ini membuat mareka sedikit terhibur, namun itu hanya sesaat dan setelah itu keadan bosan datang kembali. Bahkan menurut mereka, ada beberapa materi yang terkadang tidak dapat mereka terima dengan baik.

 

1.3              Metode Pembelajaran SKI dengan menggunakan Alphabet Pocket

 

Observasi kali ini kami menggunakan media pembelajaran yang memang sengaja kami buat untuk menarik perhatian siswa. Mengingat bahwa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah pelajaran yang membosankan di mata para siswa. Selain isinya yang berupa sejarah, terkadang guru yang mengajar SKI pun tidak  memiliki kreatifitas. Sehingga cenderung monoton dan membosankan. Media pembelajaran ini kami beri nama Alphabet Pocket atau dalam Bahasa Indonesia berarti Kantong Huruf.

Bagaimana cara membuatnya? Apa saja alat dan bahan yang diperlukan? Menurut kami cukup sederhana. Kami membutuhkan sterofoam, kertas sukung, kertas origami, kertas HVS putih. Untuk alat-alatnya kami memerlukan gunting, solasi/double tape/lem, laptop/komputer.

 

  1. Langkah pertama kita membuat huruf kapital dan huruf kecil. Kita memerlukan masing-masing 1 huruf kapital dari A sampai Z. Untuk banyaknya huruf kecil, bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk membuat huruf-huruf tersebut, kita menggunakan laptop/komputer. Kemudian kita cetak. Untuk menghemat, bisa dengan cara satu halaman HVS diisi dengan banyak huruf. Setelah di print, baru kita gunting satu per satu. Agar tidak mudah rusak, maka bisa kita lapisi dengan solasi besar.

 

  1. Langkah kedua kita melipat kertas origami menjadi seperti kantong. Sederhana saja, kita dapat membuatnya menjadi persegi. Atau apapun bentuknya, pada intinya harus bisa digunakan untuk meletakkan huruf-huruf kecil tersebut. Karena jumlah huruf ada 26, maka kita membuat kantong sebanyak 26 pula.

 

  1. Langkah ketiga menyiapkan sterofoam. Bisa sterofoam warna atau putih biasa. Kalau kita menggunakan sterofoam putih, bisa dilapisi dengan kertas sukun dengan warna yang kita inginkan. Tujuannya agar menarik perhatian siswa. Disini kita memilih kertas sukun hitam, karena agar mudah terlihat. Mengingat kita memakai kertas origami dengan berbagai warna.

 

  1. Langkah keempat menempelkan kantong-kantong origami yang telah kita buat sebelumnya pada sterofoam yang telah kita siapkan dengan menggunakan double tape.

 

  1. Langkah kelima menempelkan potongan huruf kapital yang telah dilapisi solasi besar pada masing-masing kantong secara urut dari A sampai Z.

 

  1. Langkah keenam memasukkan huruf-huruf kecil ke dalam kantong yang telah ditempeli huruf kapital sesuai dengan tempatnya

 

  1. Langkah ketujuh memberi  nama media pembelajaran tersebut yaitu Alphabet Pocket. Bisa tetap menggunakan potongan huruf-huruf atau bisa juga dengan alternatif lain.

 

Nah itu tadi langkah-langkah membuat media pembelajaran yang kita beri nama Alphabet Pocket. Lalu bagaimana cara mengaplikasikan dalam pembelajaran?

Ada berbagai cara, tergantung seorang guru, harus sekreatif mungkin agar bisa berhasil. Media Pembelajaran ini bisa digunakan dalam mata pelajaran apa saja. Tergantung konteks. Bisa digunakan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, atau yang lainnya. Media ini juga bisa digunakan secara berkelompok ataupun individu.

Ada beberapa cara pengaplikasian media pembelajaran ini, diantaranya sebagai berikut :

–         Dengan bantuan lembar TTS atau dalam Bahasa Inggris biasa disebut dengan CrossWord. Para siswa harus mencari dan mengumpulkan huruf-huruf yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru atau pertanyaan yang tertera dalam lembar tersebut. Kemudian menyusun sesuai dengan TTS tersebut.

 

–         Tanpa bantuan TTS. Guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa, bisa secara lisan atau tertulis. Kemudian secara individu/kelompok para siswa berebut mencari dan mengumpulkan huruf-huruf yang merupakan jawaban dari pertanyaan tersebut. Kemudian menyusun huruf-huruf tersebut dengan benar.

 

Dengan metode semacam ini, bisa meninggalkan kesan yang lebih mendalam pada seorang siswa. Mereka belajar menemukan informasi sendiri yang mereka butuhkan. Mereka belajar bersosialisai dan bekerjasama dengan temannya kalau dilakukan secara berkelompok. Bukan hanya fikiran mereka yang aktif, tetapi juga mereka menggerakkan hampir semua anggota badan mereka. Selain itu mereka juga bisa berlatih kecermatan dan ketelitian dalam waktu yang singkat.

Mungkin sisi negatif dari media pembelajaran Alphabet Pocket ini adalah ketika digunakan secara kelompok/individu, dan guru tidak bisa mengkondisikan kelas dengan baik, maka kelas akan menjadi ramai. Seorang guru harus bisa mengkondisikan kelas dengan baik. Agar tidak mengganggu kelas lain dan tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan baik.

Selain menggunakan Alphabet Pocket, kita juga menggunakan media pembelajaran dengan sebuah lagu.  Dengan judul asli “Kalau Kau Suka Hati” dan kita ganti liriknya sesuai bab yang akan kita ajarkan, yaitu sifat-sifat Nabi Muhammad. Kurang lebih liriknya seperti berikut ini.

Ayo kita belajar sifat Nabi .. Ayo!

Sifatnya ada empat yang ku tahu .. Empat!

Shiddiiq artinya jujur

Amanah dipercaya

Tabligh sampaikan wahyu

Dan fathonah, cerdas !

 

Menurut kami, dengan menggunakan dua metode tersebut pembelajaran SKI akan dirasa lebih efektif dan menyenangkan. Mereka akan lebih cepat menangkap makna dan menghafal isi dari materi tersebut.

 

1.4              Perbandingan Hasil dari Kedua Metode Tersebut

 

Menurut hasil observasi yang kami lakukan di MI Nurul Hikmah, metode pembelajaran Alphabet Pocket yang berhasil kami temukan bisa dinilai sukses, karena  membuat siswa merasa semangat dan antusias ketika mereka menerima mata pelajaran SKI. Suasana kelas berbeda sekali dengan sebelum kita datang ke MI tersebut. Ketika bersama guru SKI, mereka cenderung lebih banyak diam dan mendengarkan, karena metode yang dipakai oleh gurunya adalah ceramah. Hanya sesekali mereka tertawa atau suasana kelas ramai karena guru SKI mereka meneriakkan kata-kata “Jamaah..Oo Jamaah” yang mungkin kata tersebut sangat familiar di telinga mereka. Setelah kata-kata tersebut selesai disebutkan, mereka kembali diam dan mendengarkan. Inilah yang membuat mereka merasa bosan dan tidak semangat dalam mengikuti mata pelajaran SKI, bahkan ada dari mereka yang sampai menguap dan merasa kantuk.

Berbeda jauh dengan saat kami mengajar di kelas tersebut. Awalnya memang mereka sedikit canggung karena baru pertama kali bertemu. Kami mencoba mengakrabkan diri terlebih dahulu dengan mereka. Dengan cara mengajak berkenalan satu persatu. Tak perlu membutuhkan waktu yang lama karena hal tersebut justru akan membuat mereka jenuh. Yang paling penting adalah harus menimbulkan kesan ketika awal bertemu. Metode Pembelajaran pertama yang kami gunakan adalah dengan menyanyi. Mereka terlihat sangat antusias dan semangat mengikuti pelajaran. Setelah menyuruh mereka untuk menulis lirik lagu tersebut di buku tulis, kami mengajak mereka bernyanyi bersama. Tak hanya sekali saja, tetapi berkali-kali. Setelah itu kami mencoba menghapus satu demi satu kata yang ada di papan tulis, dan akhirnya habis. Tanpa disuruh menghafal pun, mereka dengan sendirinya akan hafal apa saja sifat-sifat Nabi Muhammad. Karena yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah interaksi dan penguatan/pengulangan  pada materi yang dianggap penting.

Untuk metode pembelajaran Alphabet Pocket, di awal mereka memang merasa bingung karena baru pertama kali. Tetapi setelah kami memberikan penjelasan dan keterangan, mereka mulai paham dan melakukan apa yang kami maksud. Mereka terlihat sangat ceria. Alasannya adalah, yang pertama karena mereka bisa saling berinteraksi dan bersosialisasi langsung dengan teman-temannya. Karena kami membagi mereka menjadi beberapa kelompok kecil. Alasan yang kedua adalah karena mereka melihat aneka warna huruf yang membangkitkan rasa senang mereka, sehingga mereka sangat antusias untuk melakukan kegiatan ini. Mereka yang awalnya pendiam, menjadi aktif untuk berbicara dan menyampaikan pendapat mereka, meskipun hanya beberapa kata.

Ternyata metode pembelajaran yang kami gunakan lebih efektif dan efisien untuk digunakan dalam mata pelajaran SKI. Dengan menyanyi dan menuyusun huruf-huruf dari alphabet pocket, akan lebih meninggalkan kesan yang mendalam di otak dan hati mereka. Karena dalam metode pembelajaran tersebut, mereka akan menemukan secara langsung apa yang mereka butuhkan. Mereka juga merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya diam dan mendengarkan karena hal tersebut akan membuat otak mereka cenderung statis.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Memang Metode Pembelajaran merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Unsur ini sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pembelajaran. Lagi-lagi seorang guru yang kreatif dan inovatif sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Apalagi untuk mata pelajaran yang berbau sejarah seperti SKI ini. Seorang guru harus bisa merubah pandangan para murid yang mengatakan bahwa SKI sangat membosankan dan tidak perlu dipelajari. Seorang guru harus pandai-pandai mengambil hati siswa sedikit demi sedikit agar mereka tertarik dan menjadi semangat dalam mengikuti mata pelajaran SKI ini. Tentunya dengan metode pembelajaran yang dikemas sekreatif dan semenarik mungkin. Yang paling penting lagi dalam proses pembelajaran adalah adanya interaksi dan penguatan/pengulangan pada materi yang dianggap penting untuk disampaikan. Tujuannya adalah agar lebih mengena di otak dan hati para siswa.

 

3.2 Saran

Sebagai wujud rasa syukur kita, sebagai umat Islam seharusnya lebih giat untuk membaca dan mengamalkan isi ajaran yang terkandung didalam Al-Qur’an dan hadits. Karena di dalam Al-Qur’an dan hadits tersebut banyak ayat pendidikan, termasuk juga yang berkaitan dengan metode pembelajaran. Metode-metode yang telah dicontohkan nabi dalam hadits-hadits tersebut juga sangat efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu, kita harus bisa mengoptimalkan apa yang telah Alloh berikan kepada kita untuk kemajuan dunia pendidikan.

 

0

Keragaman Bentuk Muka Bumi dan Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Bumi adalah tempat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tinggal. Bumi bila dilihat dari luar angkasa tampak halus dan indah, tetapi apabila bagian bumi dilihat dari dekat, akan tampak bahwa permukaan Bumi tidak rata dan bentuknya beragam. Keragaman bentuk muka bumi tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui berbagai proses dan waktu yang sangat lama.

Manusia di bumi tidak hanya berwujud seperti manusia saat ini. Melainkan ada masa yang jauh berbeda dari masa sekarang yang kita sebut sebagai zaman pra sejarah atau lazim disebut dengan masa pra aksara. Masa praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Masa ini ada sekitar 3 juta tahun yang lalu.

Makalah ini akan membahas jauh dan mendalam tentang keragaman bentuk bumi serta pengaruhnya terhadap kehidupan dan masa pra-aksara. Pembahasan tentang masa pra-aksara mencakup tentang apa dan bagaimana kehidupan pada masa pra-aksara terutama di Indonesia.

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana keragaman bentuk muka bumi?
  2. Bagaimana proses pembentukan muka bumi?
  3. Apa saja dampak bagi kehidupan?
  4. Bagaimana kehidupan masa pra-aksara di Indonesia?

 

1.3 Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui keragaman bentuk muka bumi
  2. Untuk mengetahui proses pembentukan muka bumi
  3. Untuk mengetahui apa saja dampak terhadap kehidupan
  4. Untuk mengetahui kehidupan masa pra-aksara di Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Keragaman Bentuk Muka Bumi

                        Bumi bila dilihat dari luar angkasa tampak halus dan indah, tetapi apabila bagian bumi dilihat dari dekat, akan tampak bahwa permukaan Bumi tidak rata dan bentuknya beragam.

                        Pada permukaan Bumi, ada bagian yang menonjol ke atas, ada pula bagian yang cekung ke bawah. Di daratan bagian yang menonjol ke atas, dapat berupa gunung, pegunungan, dataran tinggi, bukit, dan  sebagainya. Bagian yang cekung dapat berupa ngarai, lembah, danau, sungai, rawa, dan sebagainya. Di dasar laut juga terdapat bagian yang menonjol ke atas dan bagian yang cekung ke bawah, dapat berupa palung laut, lubuk laut, gunung bawah laut, dan sebagainya.

                        Keragaman bentuk muka Bumi tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui berbagai proses dan waktu yang sangat lama. Berbagai bentuk tenaga bekerja untuk mengubah muka Bumi, baik dari dalam Bumi (endogen) maupun dari luar Bumi (eksogen) yang dikenal dengan sebutan tenaga geologi.

Beberapa bentuk-bentuk yang terdapat di muka bumi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok antara lain:

            1. Daerah Pantai

Pada daerah pantai terdapat beberapa macam bentukan, yaitu:

            a. Teluk

Teluk adalah pantai yang bentuknya cekung ke arah daratan atau dapat             disebut juga wilayah laut yang menjorok ke arah daratan. Di Indonesia            sendiri terdapat beberapa contoh dari teluk, yaitu Teluk Jakarta di Pulau             Jawa, Teluk Bone dan Teluk Tomini di Pulau Sulawesi.

            b. Tanjung

Tanjung adalah wilayah daratan yang menjorok ke arah lautan. Apabila ukuran dari tanjung tersebut sangat luas, biasanya disebut dengan istilah Semenanjung. Contoh dari tanjung di Indonesia antara lain Tanjung Priok        dan Tanjung Ujung Kulon di Pulau Jawa, di Pulau Sumatera terdapat            contoh lainnya yaitu Tanjung Jabung.

            c. Delta

Delta adalah daratan yang terletak di muara sungai. Proses pembentukan           Delta dipengaruhi oleh kegiatan sedimentasi sungai. Delta biasanya         terdapat di muara sungai-sungai besar karena materi yang          tersedimentasikan banyak, maka delta yang terbentuk pun akan cukup      luas. Contoh delta di Indonesia antara lain Delta Sungai Kapuas dan Delta    Sungai Mahakam di Kalimantan.

 

            2. Dataran Rendah

Dataran Rendah dapat diartikan sebgai sebuah wilayah yang memiliki karakter landai dan datar juga terletak pada ketinggian yang tidak melebihi 500 meter diatas permukaan laut (m dpl). Contoh dari dataran rendah adalah wilayah Pantura atau Pantai Utara Jawa.

Pada dataran rendah, penggunaan lahan yang dominan adalah pertanian sawah, selain itu pula pada wilayah dataran rendah yang mendekati laut dan juga dekat dengan muara sungai terdapat rawa-rawa seperti yang terdapat di daerah Pantura dan sebelah utara dari Pulau Sumatera.

 

            3. Dataran Tinggi

Dataran Tinggi adalah wilayah yang bentuknya datar, bergelombang dan berbukit-bukut dengan kisaran ketinggian pada lebih dari 500 m dpl hingga 1.500 m dpl.Dataran tinggi yang luas berpuncak datar dan biasanya dikelilingi oleh lereng yang curam dinamakan Plato (Plateau). Beberapa dataran tinggi yang terdapat di Indonesia adalah dataran tinggi Dieng di Jawa Timur dan juga dataran tinggi di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

 

 

            4. Pegunungan

Daerah pegunungan merupakan daerah yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gung sehingga tampak membentuk suatu lingkaran (sirkum). Ada dua sistem pegunungan atau sirkum di muka bumi ini, yaitu:

a. Sirkum Mediterania

Sirkum Mediterania ini berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa dan     kemudian menyembung ke sebelah timur hingga Pegunungan Himalaya di             Asia dan masuk ke wilayah Indonesia melalui wilayah Sumatera dan             menyambung ke Jawa hingga mencapai Kepulauan Maluku.

b. Sirkum Pasifik

Sirkum Pasifik berawal dari barisan Pegunungan Andes di Amerika       Selatan dan berlanjut ke Pegunungan Rocky di belahan Amerika Utara.        Kemudian melalui wilayah Jepang hingga Filipina dan akhirnya masuk ke            Indonesia melalui Pulau Sulawesi dan ada juga yang berbelok ke   Halmahera dan berakhir di Papua.

 

2.2  Proses Pembentukan Muka Bumi

                        Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai mengalir, merupakan suatu panorama yang indah di muka bumi. Perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja pada bumi. Kekuatan itu disebut tenaga geologi. Tenaga geologi terdiri dari tenaga endogen dan tenaga eksogen.

  1. a.      Tenaga Endogen

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang         bersifat membentuk permukaan bumi baru. Tenaga endogen      dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

  1. 1.      Vulkanisme

Vulkanisme adalah segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan yang lebih atas atau sampai ke luar permukaan bumi. Aktivitas tersebut menghasilkan bentukan berupa kerucut atau kubah yang berdiri sendiri dan disebut gunung api. Dimanakah biasanya terbentuk gunung api? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perhatikanlah gambar berikut.

                              Gb. Pertemuan Lempeng Bumi

Pada gambar tersebut tampak bahwa gunungapi umumnya terbentuk pada pertemuan lempeng, terutama lempeng yang saling bertumbukan. Pada pertemuan lempeng tersebut, lempeng samudera menunjam ke bawah dan lempeng benua terangkat. Akibat kaku, lempeng benua mengalami retakan. Magma yang cair kemudian masuk melalui retakan-retakan tersebut dan membentuk kantong-kantong magma. Sebagian magma mampu mencapai permukaan bumi dan membentuk gunungapi. Karena itulah, sebagian besar gunungapi terbentuk pada pertemuan lempeng tersebut.

 

Intrusi dan Ekstrusi Magma

Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke dalam litosfer (kulit Bumi). Penyusupan magma ke dalam litosfer dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

a) Intrusi Magma

Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma diantara lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan Bumi. Intrusi magma dapat dibedakan atas sebagai berikut.

(1)   Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi),

Magma menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar, dan paralel dengan lapisan batuan tersebut.

(2)   Lakolit,

Magma yang menerobos di antara lapisan Bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.

(3)   Gang (korok),

Batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela-sela lipatan (korok).

(4)   Diatermis,

Lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunung berapi. Bentuknya seperti silinder memanjang.

 

b) Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat.

 

Bentuk Gunung Api

1)      Gunungapi corong atau maar,

Gunung api hasil erupsi eksplosif atau berupa ledakan yang posisi dapur magmanya relatif dangkal sehingga gunungapi tersebut berhenti aktivitasnya dengan hanya satu kali ledakan. Oleh karena itu, ketinggian gunung ini relatif rendah dan memiliki kemiringan yang cukup curam. Biasanya terbentuk danau pada bekas lubang erupsi yang dasarnya relatif kedap air. Danau Eifel di Perancis dan Ranu Klakah di lereng Gunung lamongan merupakan contoh tipe ini.

2)      Gunungapi perisai atau aspit,

Gunung api hasil erupsi efusif atau erupsi berupa aliran. Magma yang cair atau encer bergerak ke segala arah dengan ketebalan yang tipis sehingga ketinggiannya juga rendah. Contoh gunungapi aspit adalah gunungapi di Kepulauan Hawaii.

3)      Gunungapi strato,

Gunung api berbentuk kerucut yang tinggi dengan lereng yang curam. Kerucut yang tinggi merupakan hasil dari timbunan material-material vulkanik yang padat maupun cair secara terus-menerus. Gunungapi ini merupakan gabungan tipe letusan eksplosif dan efusif secara bergiliran. Gunungapi di Indonesia umumnya termasuk tipe strato seperti Tangkuban Perahu, Kerinci, Merbabu, Gede-Pangrango, Gempo, dan lain-lain.

 

Tanda-tanda gunung api akan meletus

Gunung api yang akan meletus biasanya mengeluarkan tanda-tanda alami sebagai berikut:

  1. suhu di sekitar kawah naik;
  2. banyak sumber air di sekitar gunung itu mengering;
  3. sering terjadi gempa (vulkanik);
  4. sering terdengar suara gemuruh dari dalam gunung;
  5. banyak binatang yang menuruni lereng.

 

Gejala pasca vulkanik

Gunung api yang sudah kurang aktif, memiliki tandatanda yang disebut gejala post vulkanik, atau pasca vulkanik atau setelah aktivitas vulkanik dengan gejala-gejala sebagai berikut.

  1. Sumber gas asam arang (CO2 dan CO) yang disebut mofet. Gas ini berbahaya sebab dapat menyebabkan mati lemas bagi orang yang menghirupnya. Contoh: Kawah Timbang dan Nila di Dieng (Jawa Tengah), Tangkuban Perahu dan Papandayan (Jawa Barat).
  2. Sumber gas belerang , disebut solfatara. Contoh : Tangkuban Parahu (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah) dan Rinjani (NTB).
  3. Sumber gas uap air, disebut fumarol. Contoh : Dieng (Jawa Tengah) dan Kamojang (Jawa Barat).
  4. Sumber air panas. Sumber air panas yang mengandung zat belerang, dapat digunakan untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit kulit.
  5. Sumber air mineral. Sumber air mineral ini berasal dari air tanah yang meresap bercampur dengan larutan mineral tertentu seperti: belerang, atau mineral lain. Contoh sumber air mineral terdapat di: Ciater dan Maribaya (Jawa Barat),dan Minahasa (Sulawesi Utara).
  6. Geyser. Pancaran air panas yang berlangsung secara periodik disebut geyser. Geyser yang terkenal terdapat di Yellow Stone National Park, California (USA), pancaran airnya bisa mencapai ketinggian 40 meter. Pancaran air semacam ini juga terdapat di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.

 

  1. 2.      Diatropisme

Diastropisme adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi yang mengakibatkan pergeseran dan perubahan posisi lapisan batuan sehingga mengubah bentuk muka bumi. Gerakan tersebut dapat dibedakan menjadi gerakan orogenesis dan epirogenesis. Semua gerakan tersebut akan mengubah bentuk permukaan bumi berupa munculnya sesar dan pelipatan.

Epirogenesis adalah pengangkatan jalur kerak bumi sehingga membentuk pegunungan yang berlangsung sangat lambat dan meliputi daerah yang sangat luas.

Orogenesis adalah proses pembentukan pegunungan (mountain building) atau pengangkatan kerak bumi karena tumbukan lempeng. Proses tersebut menghasilkan pegunungan berangkai yang bersamaan dengan itu terbentuk patahan dan lipatan. Misalnya Pegunungan Himalaya. Jadi, gunung api tidak termasuk orogenesis karena tenaga yang membentuknya adalah tenaga vulkanisme bukan diastropisme.

  1. 1.      Lipatan

Lipatan, terjadi akibat tenaga endogen yang mendatar dan bersifat liat (plastis) sehingga permukaan bumi mengalami pengerutan. Lapisan batuan pada kerak Bumi mendapat tekanan hebat yang menyebabkan pelipatan lapisan batuan. Proses pelipatan lapisan batuan ini merupakan awal pembentukan pegunungan lipatan. Contohnya pembentukan pegunungan lipatan Himalaya. Terlipatnya lapisan batuan ini dapat mendorong terbentuknya perbukitan (antiklinal) dan lembah (sinklinal). Dalam suatu wilayah yang luas terkadang juga dapat dijumpai deretan antiklinal secara berulang-ulang (antiklinorium) maupun rangkaian sinklinal (sinklinorium). Tekanan dengan tingkat tenaga yang berlainan pada lapisan batuan dapat membentuk lipatan yang berbeda. Berikut ini gambaran terjadinya antiklinorium dan sinklinorium serta jenis lipatan batuan.

  1. 2.      Patahan

Tekanan dalam Bumi menyebabkan patahan jika bekerja pada lapisan batuan yang tidak elastis atau keras. Akibatnya, kerak Bumi retak kemudian patah. Di patahan ini ada bagian yang turun disebut graben (slenk). Contohnya graben Semangko di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra. Kadang graben sangat dalam yang disebut ngarai. Contohnya Ngarai Sianok di Sumatra Barat. Jika graben itu terisi air dan menggenang akan menciptakan sebuah danau. Misalnya, Danau Toba di Sumatra Utara dan Danau Tempe di Sulawesi Selatan. Sementara itu, lapisan tanah yang terangkat disebut horst yang menghasilkan kenampakan sebuah plato (dataran tinggi). Contohnya Plato Dieng di Jawa Tengah dan Plato Wonosari di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

  1. 3.      Seisme ( Gempa Bumi)

Gempa merupakan getaran keras dan terjadi secara tiba-tiba. Gempa ini merupakan peristiwa alam yang sangat menghancurkan. Pergeseran daratan di Bumi selalu diikuti dengan gempa. Secara umum, penyebab gempa bumi dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu tektonik, vulkanik, dan runtuhan.

  1. a.      Gempa Tektonik

Gempa bumi yang sering terjadi di Indonesia disebabkan oleh gejala tektonik, yaitu gerakan Lempeng tektonik pada lapisan kulit Bumi. Lempeng tektonik merupakan bagian dari litosfer yang padat dan terapung di atas lapisan selubung bergerak satu sama lain. Gempa ini terjadi karena pelepasan tenaga yang dihasilkan oleh pergeseran lempeng tektonik. Jika dua lempeng bertemu pada satu sesar (patahan), kadang dapat bergerak saling menjauhi, mendekati, atau saling bergeser. Selanjutnya, terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut. Akibatnya, terjadi pelepasan secara tiba-tiba hingga dapat menggetarkan kulit Bumi dengan kekuatan besar yang kita kenal sebagai gempa bumi tektonik.

  1. b.      Gempa Vulkanik

Gempa yang mengguncang Bumi juga dapat ditimbulkan oleh gejala vulkanik atau gunung api. Letusan gunung api yang terjadi disebabkan oleh aliran magma dari dalam Bumi menerobos ke atas lapisan kerak Bumi. Letusan gunung berapi yang keras menyebabkan getaran kulit Bumi, terutama di daerah sekeliling gunung berapi. Pengaruh gempa vulkanik tidak sampai radius jarak yang jauh. Intensitas gempa biasanya lemah sampai sedang. Akibat yang ditimbulkan oleh gempa vulkanik juga tidak sebesar gempa tektonik.

  1. c.       Gempa Runtuhan

Selain gempa tektonik dan vulkanik, gempa bumi dapat terjadi karena runtuhan lapisan batuan. Kegiatan penambangan bawah tanah menyisakan rongga-rongga di bawah tanah berupa guagua. Apabila runtuh, permukaan Bumi akan bergetar. Gempa jenis ini bersifat lokal dan kekuatannya paling lemah.

Berdasarkan jarak pusat gempa, gempa bumi dibedakan menjadi tiga, yaitu :

–          Gempa bumi dalam

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya lebih dari 300km dibawah permukaan bumi. Gempa bumi jenis ini kekuatannya sangat kecil karena sumber gempanya sangat jauh.

–          Gempa bumi menengah

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya antara 100 – 300 km dibawah permukaan bumi. Kekuatannya lebih kuat dibanding gempa bumi dalam.

–          Gempa bumi dangkal

Yaitu gempa bumi yang pusat gempanya kurang dari 100 km dibawah permukaan laut. Kekuatannya sangat besar karena sumber gempanya sangat dekat.

 

  1. b.      Tenaga Eksogen

            Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi, sifatnya merombak atau merusak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga angin, air, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi.

  1. Proses pelapukan dapat dibagi atas tiga jenis yaitu:

–          Pelapukan fisis atau mekanis

–          Pelapukan organis atau biologis

–          Pelapukan kimiawi

  1. Proses terjadinya erosi dibagi atas empat macam yaitu:

–          Erosi oleh air sungai

–          Erosi oleh air laut (abrasi)

–          Erosi oleh gletsyer (glasial/eksarasi)

–          Erosi oleh angin (deflasi)

  1. Denudasi

Denudasi ialah proses yang mengakibatkan perendahan relief daratan. Akibatnya terbentuklah peneplain (dataran yang luas dan semakin melandai ke laut)

  1. Sedimentasi

Sedimentasi ialah proses pengendapan material-material yang diangkut oleh tenaga alam. Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut, sedimentasi dibagi atas:

–          Sedimentasi oleh air sungai.

–          Sedimentasi oleh air laut.

–          Sedimentasi oleh angin.

–          Sedimentasi oleh gletsyer.

2.3  Dampak Terhadap Kehidupan

            Dampak positif dan negatif tenaga endogen serta upaya   penanggulangannya.

  1. a.      Dampak positif tenaga endogen

Patut kita syukuri bahwa tenaga endogen berupa tektonisme yang telah membentuk dataran tinggi dan pegunungan memberikan manfaat besar        bagi kehidupan manusia seperti lahan pertanian, PLTA, menyediakan hasil         tambang, tempat pariwisata.

  1. b.      Dampak negatif tenaga endogen

Daerah-daerah pegunungan sering terjadi longsor yang banyak menimbulkan kerugian baik materi maupun korban jiwa terutama pada       musim hujan.

  1. c.       Upaya penanggulangan dampak negatif tenaga endogen, misalnya:

–          Daerah yang sering terjadi longsor karena keadaan tanahnya yang labil (mudah bergerak), tidak dijadikan sebagai lokasi pemukiman.

–          Membuat konstruksi bangunan yang tahan gempa.

–          Tidak menjadikan lereng curam sebagai lahan pertanian.

Dampak Positif dan Negatif Tenaga Eksogen serta Usaha Penanggulangannya

  1. a.      Dampak positif munculnya tenaga eksogen:

–          Memunculkan habitat.

–          Memperluas daratan di bumi.

–          Memperdekat barang-barang tambang ke permukaan bumi.

  1. b.      Dampak negatif tenaga eksogen:

–          Kesuburan tanah semakin berkurang karena tanah yang subur di permukaan bumi terus menerus mengalami erosi setiap hujan turun.

–          Pendangkalan di muara sungai

–          Abrasi di pantai

  1. c.       Usaha penanggulangan dampak negatif tenaga eksogen:

–          Merehabilitasi hutan yang telah rusak dan melakukan reboisasi pada lahan yang telah gundul, karena hutannya telah habis terbakar.

–          Membuat teras-teras pada lereng yang miring

–          Pengerukan di muara-muara

–          Penanaman pohon bakau.

 

2.4 Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

  1. 1.             Pengertian Masa Praaksara

Masa praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Masa praaksara sering disebut sebagai masa prasejarah. Kehidupan manusia pada masa praaksara disebut sebagai kehidupan manusia purba. Manusia muncul di permukaan bumi kira-kira 3 juta tahun yang lalu bersama dengan terjadinya berkali-kali pengesan atau glasiasi dalam zaman yang disebut kala plestosen.

 

  1. 2.             Kurun Waktu Masa Praaksara

Kurun waktu pada masa praaksara diawali sejak manusia ada dan berakhir sampai manusia mengenal tulisan. Berakhirnya masa praaksara setiap bangsa tidaklah sama. Misalnya, bangsa Australia baru mengenal tulisan sekitar awal abad ke-20. Berarti penduduk asli bangsa Australia baru meninggalkan masa praaksara pada awal abad ke-20.

Bangsa Indonesia meninggalkan masa praaksara kira-kira pada tahun 400 masehi. Hal ini diketahui dari adanya batu bertulis yang terdapat Muara Kaman, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut tidak berangka tahun, namun bahasa dan bentuk huruf yang dipakai member petunjuk bahwa prasasti itu dibuat sekitar tahun 400 Masehi.

 

  1. 3.             Lingkungan alam pada masa praaksara

Keadaan alam di muka bumi selalu berubah-ubah, yang disebabkan oleh hal-hal berikut.

1)             Orogenesis atau gerakan pengangkatan kulit bumi.

2)             Erosi atau proses pengikisan lapisan kulit bumi yang disebabkan oleh angin, air hujan, dan aliran air sungai

3)             Vulkanisme atau kegiatan gunung berapi

Masa praaksara disebut zaman es atau kala plestosen, dimana bagian barat Indonesia berhubungan dengan daratan asia tenggara, sedangkan bagian timur wilayah Indonesia berhubungan dengan Australia.

Kala plestosen berlangsung kira-kira 3 juta sampai 10 ribu tahun yang lalu. Dalam keseluruhan sejarah bumi, kala plestosen merupakan masa geologi yang paling muda dan singkat. Akan tetapi, bagi sejarah umat manusia, kala plestosen merupakan merupakan bagian yang paling tua.

Pada masa plestosen, suhu di bumi menurun dan gletser yang biasanya hanya terdapat di daerah-daerah kutub serta puncak gunung dan pegunungan tinggi meluas, sehingga daerah yang berdekatan dengan tempat-tempat tersebut dan tempat-tempat lain tertutup oleh lapisan es, misalnya di daerah Amerika, Eropa dan Asia serta pegunungan tinggi lainnya.

Akibat dari masa pengesan pada zaman plestosen adalah turunnya permukaan laut sehingga laut yang dangkal berubah menjadi daratan. Daratan-daratan baru inilah yang berperan sebagai jembatan bagi manusia dan hewan dalam melakukan perpindahan ke daerah lain untuk menghindari bencana dan mencari sumber makanan baru.

 

  1. 4.             Awal kehadiran manusia

Menurut hasil penelitian ahli purbakala, diperkirakan manusia muncul sekitar 3 juta tahun yang lalu bersamaan terjadinya proses glasisasi atau pengesan daratan di bumi, yang disebut kala plestosen. Pada masa itu terjadi penurunan suhu di bumi sehingga sebahagian besar daratan di kawasan Amerika, dan Asia Eropa ,dan Asia tertutup lapisan es. Dengan kondisi alam yang demikian membuat manusia menjinakkan hewan/berburu hewan dan bercocok tanam serta dengan membuat alat-alat sederhana untuk membantu kegiatan hidupnya.

 

  1. 5.             Kehidupan pada masa praaksara di Indonesia

Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan disebut masa pra aksara atau prasejarah. Dikarenakan belum mengenal tulisan, maka jejak-jejak sejarah yang mereka tinggalkan berupa benda-benda kebudayaan. Melalui benda-benda kebudayaan yang ditinggalkan para ahli mencoba mengamati dan meneliti secara seksama sehingga diperoleh gambaran mengenai kehidupan manusia pada masa pra-aksara atau prasejarah.

  1. a.             Cara masyarakat pra-aksara mewariskan masa lalu

Ada dua aspek utama dari peninggalan masa lalu yang tidak boleh dilupakan, yaitu:

  1. Peninggalan masa lalu yang bersifat material, misalnya benda-benda kebudayaan.
  2. Peninggalan masa lalu yang bersifat nonmaterial, misalnya pandangan atau falsafah hidup, cita-cita, etos, nilai, norma, dan lain-lain.

Setiap bangsa memiliki cara sendiri-sendiri untuk membuat dua aspek kebudayaan ini tidak dilupakan. Istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan pewarisan kebudayaan dari suatu generasi ke generasi disebut sosialisasi.

Dalam mewariskan masa lalunya, masyarakat pra-aksara belum mengenal berbagai media yang memungkinkan untuk mengarsip peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pada masyarakat pra-aksara, kebudayaan mereka hanya diwariskan secara lisan dan melalui benda-benda kebudayaan. Beberapa cara masyarakat pra-aksara mewariskan kebudayaannya antara lain sebagai berikut:

  1. 1.             Melalui keluarga

Keluarga merupakan dunia sosial yang pertama sekaligus yang paling berkesinambungan. Di dalam keluarga, hubungan sosial pertama kali dibangun. Untuk kemampuan berkomunikasi, misalnya pembelajaran bahasa terjadi pertama kali melalui keluarga. Di dalam keluarga pula seseorang dikenalkan kepada nsur- unsur kebudayaannya. Pewarisan kebudayaan diwarskan secara bertahap, mulai dari yang sederhana dan mudah dipahami menuju sesuatu yang kompleks.

Cara sosialisasi dalam keluarga pada masyarakat pra-aksara antara lain sebagai berikut:

  1. Adat istiadat

Adat istiadat merupakan kebuasaan yang dilakukan dalam suatu kelompok. Setiap keluarga memiliki adat-istiadat atau kebiasaan. Tradisi atau adat-istiadat tersebut biasanya diwariskan kepada seorang anak melalui sosialisasi. Sosialisasi dilakukan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung, misalnya dengan mengajarkan secara lisan tentang tradisi, adat istiadat atau kebiasaan yang belaku dalam sebuah keluarga. Secara tidak langsung, misalnya dengan memberikan contoh perilaku.

  1. Cerita dongeng

Dongeng merupakan cerita fiksi (cerita yang tidak benar-benar terjadi), biasanya tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau yang dianggap aneh oleh masyarakat setempat. Cerita dongeng juga salah satu cara untuk mewariskan masa lalu. Biasanya generasi tua akan menceritakan dongeng-dongeng kepada generasi yang lebih muda. Pada cerita dongeng disisipkan pesan-pesan mengenai sesuatu yang dianggap baik untu dilakukan maupun mengenai sesuatu yang dipandang tidak baik dan tidak boleh dilakukan.

 

  1. 2.             Melalui masyarakat

Dalam setiap masyarakat memiliki cara sendiri-sendiri untk mewariskan masa lalunya baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Cara-cara masyarakat ntuk mewariskan masa lalunya pada masa pra-aksara antara lain melalui hal-hal berikut.

  1. Adat istiadat

Adat istiadat dapat menjadi sarana untuk mewariskan masa lalu kepada generasi penerus. Tetapi masa lalu yang dwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi beikutnya terkadang tidak sama persis dengan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi mengalami berbagai perubahan sesuai perkembangan zaman. Hal ini juga disebabkan karena manusia memiliki akal untuk mengolah apa yang diwarisi oleh generasi terdahulu dan apa yang dibutuhkan oleh generasi bersangkutan. Oleh karena itu masa lalu tidak sepenuhnya diambil oleh generasi berikutnya, tetapihanya menjadi dasar yang terus dikembangkan dan diperbaharui.

  1. Pertunjukan hiburan

Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda, J.L. Brandes meyakini bahwa tradisi wayang telah ada pada masa pra-aksara. Pertunjukan wayang ditunjukkan dengan tujuan mendatangkan roh nenek moyang. Dengan demikian, pertunjukan wayang selain bermakna hiburan juga bermakna religius. Dalam pertunjukan wayang selalu disisipkan petuah-petuah atau petunjuk-petunjuk tentang suatu kehidupan yang sedang dilalui oleh masyarakat. Dalam pertunjukan wayang juga dinyatakan tentang baik buruk kehidupan yang dilalui oleh masyarakat, bahkan pada cerita wayang dibahas sebab akibat dari perilaku manusia secara keseluruhan.

Pertunjukan wayang sebagai media hiburan memberikan manfaat yang sangat besar. Cerita-cerita yag banyak mengandung petuah yang bermanfaat dan dapat menjadi salah satu sarana untuk mengingatkan masyarakat akan masa lalunya.

  1. Kepercayaan masyarakat

Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pada suatu tempat dapat menjadi salah satu cara masyarakat pra-aksara untuk mewariskan masa lalunya. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha, masyarakat Indonesia telah menganut kepercayaan-kepercayaan asli masyarakat Indonesia. Kepercayaan it berbentuk animisme, dinamisme, monoisme, dan segala bentuk pemujaan kepada roh nenek moyang atau roh leluhur. Pemujaan terhadap roh leluhur menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena melalui pemujaan itu masyarakat akan mengenang da mengingat apa yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya di masa lalu, yang kemudian ia warisi.

Munculnya kepercayaan asli masyarakat Indonesia yaitu animisme, dinamisme, dan monoseisme merupakan suatu proses yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan manusia. Proses itu brkembang dalam kehidupan manusia yang didasarkan pada pengalaman masyarakat bersangkutan dan ketergantngan mereka pada alam. Misalnya, pembangunan tugu batu (menhir) sebagai tanda penghormatan kepada roh leluhur atau roh nenek moyang. Tugu batu dikeramatkan oleh masyarakat, bahkan masyarakat menganggap bahwa tugu bar itu memiliki roh atau jiwa atau kekuatan ghab. Oleh karena itu, secara turun-menurun atau dari generasi ke generasi mereka tetap melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang atau roh leluhur melalui tugu batu trsebut. Selain itu, terdapat juga benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib dalam bentuk senjata atau benda-benda lain.

 

  1. b.             Tradisi sejarah masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara

Sebuah masyarakat dengan kebudayaan,nilai-nilai, norma-norma, tradisi, dan adat istiadat yang sama pasti memiliki jejak-jejak sejarahnya di masa lampau. Beberapa unsur-unsur kebudayaan masyarakat sebelum mengenal tulisan yang merupakan bagian tradisi sejarah, antara lain:

  1. Sistem kepercayaan

Masyarakat Indonesia diperkirakan mulai mengenal sistem kepercayaan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Bukti yang menunjukkan demikian adalah ditemukannya lukisan-lukisan pada dinding gua di Sulawesi Selatan. Lukisan itu berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan tersebut diartikan sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Ada lukisan tangan dengan jari yang tidak lengkap yang merupakan tanda berkabung dan penghormatan terhadap roh nenek moyang. Adanya corak kepercayaan seperti ini, diperkuat oleh penemuan lukisan kadal di Pulau Seram dan di Papua. Di tempat itu pula ditemukan lukisan perahu yang menggambarkan kendaraan nenek moyang ke alam baka.

Sampai dengan masa bercocok tanam hingga masa perundagian sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang masih terus berkembang. Pada masa bercocok tanam, pemujaan roh nenek moyang diungkapkan dengan upacara pengubran dan tradisi megalitikum, maka orang masih hidup memuja roh tersebut agar tetap dapat melindungi mereka. Pada masa perundagian, kepercayaan terhadap roh nenek moyang semakin kuat. Hal ini tampak dari makin kompleksnya bentuk upacara-upacara penghormatan, persajian, dan penguburan.

Selain penghormatan terhadap nenek moyang, ada juga kepercayaan terhadap kekuatan alam. Kepercayaan ini kiranya turut ditentukan oleh pengalaman dan ketergantungan mereka terhadap alam. Adanya kepercayaan semacam ini, antara lan terungkap dengan adanya bangunan megalitikum yang dianggap memiliki kekuatan. Corak kepercayaan seperti ini dinamakan dinamisme.

  1. Sistem Kemasyarakatan

Sistem kemasyarakatan mula tumbuh ketika manusia mulai hidup menetap dan bercocok tanam, serta jumlah kelompok yang semakin besar. Sistem kerjasama antar anggota masyarakat dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam menjalani kegiatan hidup, seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dan lain sebagainya. Untuk menjaga kehidupan bersama yang harmonis, manusia menyadari perlunya aturan-aturan yang perlu disepakati bersama. Agar aturan ini ditaati, dtentukan seorang pemimpin yang bertugas menjamin terlaksananya kepentingan bersama.

Sistem kemasyarakatan terus berkembang khususnya pada masa perundagian. Pada masa perundagian sistem kemasyarakatan menjadi lebih kompleks. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Dan tugas yang ditangani membuat masing-masing kelompok memiliki aturan sendiri. Meskipun demikian, tetap ada aturan umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok.

  1. Pertanian

Sejak zaman neolitikum, sistem persawahan mulai dikenal bangsa indonesia yaitu sejak manusia mulai hidup menetap secara permanen (sedenter). Perkiraan ini dimungkinkan mengingat proses bersawah yang cukup lama mengharuskan manusia menetap di suatu tempat dengan waktu yang relatif lama. Kehidupan gotong royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini. Semua proses penanaman dari menyemai benih sampai memanen dilakukan dengan gotong royong.

Semangat gotong royong dalam sistem persawahan terlihat dalam tata pengaturan air (irigasi). Kemampuan bersawah pada masa perundagian semakin berkembang. Hal ini mengingat sudah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.

  1. Pelayaran

Bangsa Indonesia telah menguasai kemampuan berlayar sejak zaman pra-aksara. Kemampuan berlayar bangsa Indonesia dapat diketahui dari latar belakang kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia. Nenek moyang bangsa Indonesia harus menggunakan perahu untuk sampai ke Indonesia. Kemampuan berlayar ini kemudian semakin lama semakin berkembang, mengingat sebagian wilayah Indonesia terdiri dari perairan. Kondisi wilayah yang berpulau-pulau mengharuskan orang menggunakan perahu untuk berlayar dari satu pulau ke pulau lain.

Salah satu jenis perahu yang digunakan masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara adalah perahu bercadik. Perahu bercadik merupakan model yang paling dikenal pada zaman Hindu-Budha. Berahu bercadik dibuat dari sebuah batang pohon besar yang ditebang bersama, kemudian dikupas kulitnya. Kayu tersebut dibuat rongga dengan cara pembakaran sedikit demi sedikit, lalu rongga dan tepian perahu dihaluskan dengan beliung dan akhirnya diberi cadik di satu ataupun kedua sisinya. Kemampuan berlayar ini selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Itulah sebabnya, sejak awal Masehi, bangsa Indonesia sudah mulai berkiprah dalam jalur pelayaran perdagangan internasional.

  1. Sistem Bahasa

Sebagian besar wiayah Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh bentangan lautan yang sangat luas. Dengan keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan sejak semula mereka memiliki sejumlah bahasa dan dialek. Bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia termasuk dalam satu rumpun bahasa yaitu Melayu Austronesia.

Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Setelah mendapat pengaruh dari bahasa Sanskerta, bahasa Melayu menjadi bahasa resi atau bahasa prasasti kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Melayu berhasil menjadi pergaulan dalam perdagangan atau menjadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Melayu menjadi bahasa perantara (lingua franca) di Nusantara atau sebagian wilayah Asia Tenggara.

  1. Ilmu Pengetahuan

Masyarakat pra-aksara di Indonesia pada zaman dahulu telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Dalam bidang pelayaran masyarakat pra-aksara telah mengenal ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Beberapa bintang yang mereka tengarai diberi nama sesuai dengan profesi mereka sebagai pelaut dan petani, diantaranya bintang biduk besar, mayang (berkaitan dengan pelayaran), bintang waluku, gubuk penceng, dan lain-lain (berkaitan dengan pertanian). Mereka juga mengenal istilah-istilah navigasi seperti angin buritan, angin sakal, dan lain-lain. Oleh karena itu mereka telah mengetahui secara teratur waktu bercocok tanam, panen, atau saat yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.

Pengetahuan astronomi dan navigasi serta teknologi pembuatan kapal telah dimanfaatkan masyarakat pra-aksara untuk hubungan transportasi antar pulau maupun antar daerah, baik itu untuk penangkapan ikan maupun untuk kegiatan perdagangan.

  1. Organisasi sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan hidup sendiri tanpa kelompok masyrakatnya. Masyarakat pra aksara di Indonesia hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan menggunakan gua-gua sebagai tempat tinggal, yang kemudian dilanjutkan dengan membangun perumahan-perumahan dalam suatu perkampungan. Untuk itu diperlukan suatu organisasi yang mengatur kehidupan bersama seperti itu. Muncullah lembaga pemerintahan, lalu ada seorang “Primus Interpares” yang disebut Kepala Suku, Ratu, atau Datu(k). Kepala suku tersebut mengatur keselarasan hidup bersama berkaitan dengan status sosial, kekerabatan, penguburan mayat, pernikahan, dan lain-lain. Kepala suku dipilih secara musyawarah atas dasar semangat kekeluargaan.

Para ahli sejaran pada awalnya menduga bahwa masyarakat pra-aksara belum mengenal lembaga “keluarga”, manusia hidup dalam alam kebebasan seksual dan tidak mengenal ikatan seksual apapun (sexual promiscuity). Namun dugaan ini sekarang tidak dapat dipertahankan lagi karena terbukti pada kelompok manusia yang paling primitif pun sudah dikenal lembaga yang disebut keluarga. Faktor yang menjadi latar belakang terbentuknya keluarga adalah untuk mengatur kehidupan seksual seseorang, alasan ekonomi (ekonomi rumah tangga maupun ekonomi di luar rumah tangga) dan untuk menentukan hak dan kepentingan yang sah (hak atas anak, hak ikut dalam pertemuan adat, dan lain-lain).

  1. Teknologi

Teknologi yang pernah dikuasai oleh masyarakat pra-aksara di Indonesia adalah teknik pengecoran logam. Berbagai peralatan rumah tangga, peralatan untuk mengerjakan sawah atau berladang, peralatan buru, dan lain-lain dikerjakan dengan teknik pengecoran logam. Masyarakat pra-aksara juga telah mengenal teknik pembuatan prahu bercadik. Pembuatan perahu bercadik ini sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh lautan. Dengan perahu bercadik tersebut, masyarakat pra aksara menggunakannya sebagai sarana transportasi dan sarana dalam perdagangan.

  1. Sistem Ekonomi

Masyarakat Indonesia pada masa pra-aksara telah mengenal hubungan perdagangan dengan daerah lain yang berbeda. Hal ini dikarenakan masyarakat pada setiap daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah sistem barter, yaitu tukar menukar barang yang besar kecil nilai penggantinya ditentukan dan disepakati bersama. Selain itu ada dugaan bahwa pada saat itu mula dikenal alat tukar berupa kulit kerang yang indah.

Barang dagangan masyarakat pra-aksara antara lain sebagai berikut:

  1. ramuan hasil hutan,
  2. hasil pertanian atau peternakan,
  3. hasil-hasil kerajinan antara lain gerabah, beliung, perhiasan, perahu, dll,
  4. garam dan ikan laut.
  5. Kesenian

Seni lukis sebagai hasil budaya masyarakat pra-sejarah mulai berkembang di Indonesia pada masa berburu tingkat lanjut. Seni lukis ini tersebar di daerah Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, dan Papua. Pada umumnya, lukisan-lukisan pra-sejarah ditemukan di gua-gua. Kemudian pada masa bercocok tanam, manusia mulai mengenal perhiasan, berupa gelang dari batu dan kulit kerang. Peninggalan megalitikum pada zaman pra sejarah menunjukkan gaya statis dan dinamis. Seni ukir yang diterapkan pada benda-benda megalitikum dan seni hias pada benda-benda perunggu mengembangkan penggunaan pola-pola geometri sebagai pola hias utama.

Beberapa jenis kesenian masyarakat pra sejarah digunakan sebagai bagian dari upacara ritual menghormati roh nenek moyangnya. Kesenian masyarakat pra sejarah yang tetap berkembang hingga saat ini diantaranya seni wayang dan gamelan. Selain itu, masyarakat sekarang juga mengenal seni menghias berbagai benda dengan lukisan-lukisan yang berasal dari kehidupannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

 

3.1  Kesimpulan

Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai mengalir, merupakan suatu panorama yang indah di muka bumi. Perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja pada bumi. Kekuatan itu disebut tenaga geologi. Tenaga geologi terdiri dari tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tentunya tenaga-tenaga tersebut memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan alam sekitar. Untuk memperkecil dampak negatif yang mungkin muncul diperlukan penanggulan-penanggulan yang harus dilakukan.

      Zaman sebelum mengenal tulisan disebut dengan zaman prasejarah atau juga bisa disebut zaman praaksara. Pada zaman ini manusia yang hidup adalah manusia purba. Zaman ini mempunyai kurun waktu tertentu, yaitu sejak manusia ada sampai manusia mengenal tulisan. Mereka mempunyai berbagai tradisi dalam kehidupannya. Begitu pula, mereka juga mempunyai cara tersendiri untuk mewariskan tradisi mereka kepada penerusnya.

 

3.2  Saran

Untuk mewujudkan rasa syukur kita sebagai umat islam, bisa kita tunjukkan dengan cara menyayangi lingkungan kehidupan sekitar kita. Dengan cara belajar dan mengetahui tentang alam, kita akan lebih bisa menghargai sesama dan percaya bahwa nikmat Alloh sungguh besar untuk kita. Dengan belajar sejarah praaksara, kita akan bisa mengambil pelajaran yang sekiranya bisa membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Setiawan, Didang. Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas 7

 

0

FAMILY INVOLVEMENT IN EARLY CHILDHOOD EDUCATION FOR THEIR CHARACTER

By Shellya Khabib Dirgantari

 

Abstract

            The toddler years are the golden period of growth and development of a child, not only physical, but also mental and social life. One foster child can be bad. In contrast, parenting that is right for your child will affect future lives and influence their character. The education center is first and foremost for them are family. Since the onset of human civilization until now, the family is always a great influence on the development of a human child. Through the family, they will indirectly learn about character education. In this article will discuss the processes of family involvement in early childhood, things that involve families to early childhood development (especially for the development of their characters), and strategies to teach children character education through the family.

 

Family Involvement Processes in early childhood

Substantial research supports family involvement, and a growing body of intervention evalutions demonstrates that family involvement can be strengthened with positive results for young chidren and their school readiness. To achieve these results, it is necessary to match children’s developmental needs, parents’ attitudes and practices, and early childhood programs’ expectations and support of family involvement. The evidence base currently suggests three family involvement processes aid in creating this match and promoting healthy outcomes: parenting, home-school relationship, and responsibility for learning outcomes. (see figure 1 on page 2). Parenting refers to the attitudes, values, and practices of parents in raising young children. Home-school relationships are the formal and informal connections between the family and educational setting. Responsibility for learning is an aspect of parenting that places emphasis on activities in the home and community that promote learning skills in the young child.

These processes  do not represent all the ways in which families support their children’s education. For example, participation in home visitation programs, parent leadership, community organizing, and participation in school decision making are not represented in this review. Readers must therefore keep in mind that family involvement covers other processes beyond those described in this set of briefs.

The sources of this research brief primarily come from the filed of human development and psychology. A detailed explanation of the methods for this brief can be found in appendix 1.

 

Parenting In Early Childhood

Parenting is the family involvement process that includes the attitudes, values, and practices of parents in raising young children. Nurturing, warm, and responsive parent–child relationships and parental participation in child-centered activities relate to positive learning outcomes in early childhood.

Nurturing relationships provide an emotional refuge for children, fostering the development of a healthy sense of belonging, self-esteem, and well-being. When parents are sensitive and responsive to children’s emotions, children are more likely to become socially competent and show better communication skills.5 Warm, reciprocal parent–child interactions and fewer life stresses in the home facilitate children’s prosocial behavior and ability to concentrate.6

Parent participation in child-centered activities, specifically play, is also important for children’s social and emotional development.7 Children who play at home and whose parents understand the importance of play in development are likely to demonstrate prosocial and independent behavior in the classroom.8 In addition, parent participation with their children in activities such as arts and crafts is associated with children’s literacy development.9

However, parenting is embedded in social and cultural contexts that influence parenting styles. Poverty is related to access to fewer social parenting supports, which in turn is associated with maternal depression and less nurturing parenting behavior.10 Moreover, parent–child activities are culturally influenced such that activities that are characteristic of one ethnic group might not be characteristic of another.11 For example, teaching letters, words, songs, and music is more characteristic of Black non-Hispanic groups, while reading and telling stories is more typical of White non-Hispanic groups.12

 

Home-School Relationship

In the early childhood years, the home–school relationship refers to the formal and informal connections between families and their young children’s educational settings.15 Both participation in preschoolbased activities and regular communication between families and teachers are related to young children’s outcomes. Parent participation practices can include attending parent–teacher conferences, participating in extended class visits, and helping with class activities. Such participation is associated with child language, self-help, social, motor, adaptive, and basic school skills.16 Maintaining relationships with fathers is important too. In a study of low-income African American fathers, involvement in Head Start was associated with higher levels of children’s emotion regulation.17

The frequency of parent–teacher contact and involvement at the early childhood education site is also associated with preschool performance.18 Parents who maintain direct and regular contact with the early educational setting and experience fewer barriers to involvement have children who demonstrate positive engagement with peers, adults, and learning.19 In addition, teachers’ perceptions of positive parental attitudes and beliefs about preschool are associated with fewer behavior problems and higher language and math skills among children.20

Not only do strong home–school relationships matter for children’s outcomes during the early childhood years, but the benefits persist over time. For example, family involvement activities such as keeping in touch with a teacher, volunteering in the classroom and attending school activities were related to children’s promotion after kindergarten into the first grade.21 More frequent parental engagement in school activities is important— probably because it contributes to parents’ greater knowledge of the school program and familiarity with school experiences. Moreover, parental presence in school may model for the child the importance of schooling.

The home–school relationship buffers the negative impacts of poverty on the academic and behavioral outcomes of poor children. For example, children of low-income parents who participated in Chicago Child–Parent Centers (CPC) were more prepared for kindergarten, were less likely to be referred to special education, and later had higher rates of eighth grade reading achievement and high school completion and lower rates of grade retention. 22

Why do the benefits of home–school relationships sustain over time? One possible answer is that family involvement in early childhood sets the stage for involvement in future school settings. For instance, family involvement in the CPC program during the early years was associated with greater parent involvement in the elementary school years, which in turn was related with positive youth outcomes in high school.23 Thus, early positive patterns in a home–school relationship bridge children’s experiences over time and across educational settings.

Because of the importance of linkages across settings over time, policymakers, practitioners, and researchers recently have begun to focus their attention on the period of transition from preschool to formal schooling. Although research in this area has not focused on which transition practices relate to specific child outcomes, there is growing consensus that both early childhood settings and elementary schools have a responsibility to support families and help them to sustain their family involvement trajectories. Unfortunately, as children transition to kindergarten, teacher and family contact decreases, and there is a shift away from parent-initiated communication.24 Logistical barriers (e.g., schools generating kindergarten class lists late in the summer, no summer salary for teachers, little teacher training in this area, etc.) hinder ideal transition practices.25 Yet schools that provide more opportunities for family involvement and occasions for nontraditional contact—such as home visits, parent discussion groups, parent resource rooms, and home lending libraries—enjoy increased levels of family participation.26

 

Responsibility For Learning Outcomes

Responsibility for learning outcomes refers to an aspect of parenting that involves placing emphasis on educational activities that promote school success. In early childhood, this family involvement process tends to focus on how parents can support children’s language and literacy. For example, children whose parents read to them at home recognize letters of the alphabet and write their names sooner.29 Direct parent-teaching activities—such as showing children how to write words—are linked to children’s ability to identify letters and connect letters to speech sounds.30 Mothers who use more complex sentences and a wider range of different words in their everyday conversations have children with richer expressive language and higher scores on literacy-related tasks in kindergarten.31 In addition, children of parents who emphasize problem solving and curiosity for learning develop long-term individual interests and the ability to attend  to tasks for longer periods of time.32

Families, however, differ in the extent to which they expose their children to language. In their seminal research, Hart and Risley (1995) found that children from professional families show significantly greater rates of vocabulary growth than children from welfare families and demonstrate richer forms of language use and interaction. They conclude that the achievement gap begins even before preschool, in the home environments of children from birth to age 3, and they recommend that poor parents receive the parenting supports that can promote the literacy development of their children.33 In fact, responsibility for learning activities, such as reading to children, and providing complementary learning experiences, such as making library visits, going on trips to the zoo, having picnics and attending and participating in sporting events, has the power to alter the influence of poverty on children’s language and literacy development.34

Responsibility for learning might be the family involvement process that is most important for young children’s outcomes. Fantuzzo and his colleagues (2004) recently showed that practices associated with responsibility for learning (e.g., providing a place for educational activities, asking a child about school, reading to a child), above and beyond aspects of the home–school relationship, are related to children’s motivation to learn, attention, task persistence, and receptive vocabulary and to fewer conduct problems.35

 

 

Things for Family Involvement character early childhood education

The toddler years are the golden period of growth and development of a child, not only physical, but also mental and social life. One teaser, one love, and one foster child can be bad. Parenting is right for your child will influence later life. Giving teaser, love, and parenting can affect the character of the child. Sharpening is the stimulation provided. Compassion is love given by parents. Foster is adequate food, clothing, shelter, and health, including education obtained by the child.

Children’s education must be done through three environments, namely the family, schools, and organizations. Family is the center of education first and foremost. Since the onset of human civilization until now, the family is always a great influence on the development of a human child. Education is a shared responsibility between families, communities, and governments. Continuation education school as a maid in the family because education is first and foremost the child is in the family acquired.
Transitional forms of informal education / family to formal / school group should require the cooperation of parents and the school (teachers). Attitudes towards school children will be influenced by the attitudes of their parents. Therefore, the necessary confidence of parents of school (teachers) who replaces his job while in school. Parents should pay attention to their children’s school experiences with respect and appreciate his efforts and cooperation demonstrated in the way children learn at home or make their homework.

The role of a parent for a child’s education is to provide basic education, attitudes and basic skills, such as religious education, manners, manners, aesthetics, affection, security, the basics to comply with regulations, and instill habits. This is where the family has a very important role in educating early childhood characters.

Character or character or personal nature such as honesty, trust, etc. is the most fundamental of Islamic education. Dr. Thomas Lickona, who cited Martadi, asserts:

In character education, it’s clear we want our children are Able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within. Character include: trustworthiness, respect, responsibility, fairness, caring, honesty, courage, diligence, integrity, citizenship.

Furthermore Martadi in his paper “Grand Design Character Education”, 12 April 2010, asserts that the “character” can be interpreted as the life of good behavior / benevolent, ie, behave well toward others (God Almighty, man, and the universe) and to yourself.

The operational definition of character education as stated Martadi:
“Character education is the process of guiding the participants / students to become fully human character in the dimensions of the heart, thought, body, and feeling and intention. Learners are expected to have good character maliputi honesty, responsibility, smart, clean and healthy, caring and creative. The character is expected to be a whole personality that reflects harmony and harmony of heart though, thought, body and feeling and intention “.

In connection with this character education, the three pillars of education must play a role, of course, begins with the pillars of the family, then the community and educational institutions. Family education as the basis and foundation.

In addition, the role of the family is to teach these values ​​and behavior as taught in school. In other words, there is continuity between the material being taught in schools.
Various studies show that when parents are involved in education, children will show increased achievement, followed by improvement of attitude, sosioemosional stability, discipline, as well as the aspirations of young people to learn through college, even after work and settle down.
For now, the family’s father plays a dual role. Apart from being the economic backbone of the family, is also expected to play an active role in parenting. This is a consequence of what has been done by the mother, that is a career woman, so the chance, attention, and treatment of the child is reduced.

 

Educating Character Strategy through the Early Childhood Family
There are some strategies to educate the character of early childhood through family, among others:

1. Exemplary adults in the household Strategy,
Noble qualities such as honesty, trust, and fatanah tablig continue exemplified in everyday life with children. A variety of praiseworthy traits penumbuhannya should start early since the start of the household or family. For that family education plays an important role. The nature of trust, or trustworthiness, respect, responsibility, honesty, courage, openness, caring, integrity, diligence and statesmanship will grow and thrive when planted since childhood.

2. Strategy habituation,
Habituation good behavior and etiquette manners is the most important part of the family. Therefore, every member of the family, especially the adult should be familiar with a positive attitude. Awards to be given an honest child. Children who are honest despite scoring lower school is more valuable than children who lie even higher value. The courage to be honest need to habituation.

3. Srategi teaching,
That gives clues to a child about something good that must be lived and practiced in everyday behavior, and show something that is not good or not right that should be shunned. Information and advice needs to be given to the child continuously.

Conclusion
The process of family involvement is not only likely to focus on how parents can support the language and literacy of children. But it is also very supportive in character education early childhood. Character education needs to be taught from an early age, especially starting from the family, because at this time that all the skills children are developing. And the family is considered as the first environment in which they live. All family members must work together to realize the implementation of character education is well. It should always be pointed out, teaching, and getting a good deed.